Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Istilah Sing Jarang Dienggo I

Teplék = Sandal/Srandal
Sentong = Kamar
Pedhangan = Dapur
Mbale/Bale = Ruang Tamu
Keblek = Motor/Sepeda Motor
Ani - ani = Peso go panen pari
Palang Dada = Lawang kang bahan kayu nduwuré ana tempat kosong
Gledeg = tempat nyimpen pari nang njero umah bentuké kotak nek ora persegi
Lumbung = tempat nyimpen pari tapi nang njaba umah
Blukang = Kayu bakar sekang plapah glugu
Cumplung = Kelapa sing esih enom tiba lan dadi garing
Klari = Godong kelapa sing wis garing
Blarak = Godong kelapa sing esih ijo
Janur = Godong kelapa sing esih kuning
Batok = Tempurung kelapa
Tepes = Kulit serat kelapa
Ngantong = Madang nang umahé wong lia
Kopet = Sisa tai atawa kotoran sing rung bersih
Sengkang = Tempat atawa citakan gula sekang irisan pring
Pongkor = Tempat nyimpen lahang atawa badeg sekang wit kelapa atawa wit aren
Etok - etok = Sendok go nyolek - nyolek atawa ngeratani pas gawe gula
Repek = Ngoleti kayu bakar
Suluh = Kayu bakar
Dingklik = Tempat jegong cilik 
Jengkok = Tempat jegong cilik tapi lebar 
Loyang = Tempat gawe kue 
Amben = Tempat turu 

Cukup semené gipi, mbesuk tak terusna maning. Gieh utéku anu wis umeb goleti kata - kata sing jarang dienggo. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.