Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Mencari Rezeki Dari Ngasag

Proses Panen Padi

Sudah memasuki kemarau tahap awal dimana hampir semua wilayah di Jawa Barat khsusunya Priangan Timur sedang panen padi. Dua kali ataupun tiga kali dalam setahun para petani padi menuai panen. Bukan hanya orang kaya ataupun orang yang punya sawah saja yang merasakan panen padi, orang yang tidak punya sawah juga merasakannya.

Bagi masyarakat yang tidak mempunyai sawah mereka biasanya ikut membantu panen dan satu lagi kegiatan panen yang tak kalah berarti adalah ngasag. Berasal dari bahasa Jawa Banyumasan, ngasag berarti mencari sisa-sisa buliran padi/tangkaian padi yang jatuh dari proses panen ataupun dari batang padi yang masak terakhir. Ngasag selalu dilakukan seseorang setelah si pemilik sawah menyelesaikan semua kegiatan penennya, kasarnya ngasag bisa disebut "memulung".

Siapa pun bisa ngasag padi di sawah siapa pun, peraturan dan etikanya saja yang harus diperhatikan yakni ngasag harus dilakukan setelah proses panen selesai. Jangan ngasag saat proses panen belum benar-benar selesai misalnya saat yang panen masih nyungah (menganggkut) hasil panennya dari sawah ke rumah. 

Bagaimana cara ngasag? Para petani yang ngasag biasanya membawa wadah yang terbuat dari anyaman bambu disebut telombong. Dan membawa tampah untuk "menyaring" gabah yang berisi dan gabah yang kosong. Cakupan ngasag bukan hanya soal itu saja melainkan memetik padi sisa panen. 

Orang yang rajin ngasag biasanya mendapatkan setengah karung atau lebih, semua tergantung rezeki yang dicarinya. Bagi saya sendiri ngasag adalah berkah bagi semua orang yang ingin mencari rezeki. Bersyukur di desa tidak ada diskriminasi soal ngasag.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.