Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Mencari Rezeki Dari Ngasag

Proses Panen Padi

Sudah memasuki kemarau tahap awal dimana hampir semua wilayah di Jawa Barat khsusunya Priangan Timur sedang panen padi. Dua kali ataupun tiga kali dalam setahun para petani padi menuai panen. Bukan hanya orang kaya ataupun orang yang punya sawah saja yang merasakan panen padi, orang yang tidak punya sawah juga merasakannya.

Bagi masyarakat yang tidak mempunyai sawah mereka biasanya ikut membantu panen dan satu lagi kegiatan panen yang tak kalah berarti adalah ngasag. Berasal dari bahasa Jawa Banyumasan, ngasag berarti mencari sisa-sisa buliran padi/tangkaian padi yang jatuh dari proses panen ataupun dari batang padi yang masak terakhir. Ngasag selalu dilakukan seseorang setelah si pemilik sawah menyelesaikan semua kegiatan penennya, kasarnya ngasag bisa disebut "memulung".

Siapa pun bisa ngasag padi di sawah siapa pun, peraturan dan etikanya saja yang harus diperhatikan yakni ngasag harus dilakukan setelah proses panen selesai. Jangan ngasag saat proses panen belum benar-benar selesai misalnya saat yang panen masih nyungah (menganggkut) hasil panennya dari sawah ke rumah. 

Bagaimana cara ngasag? Para petani yang ngasag biasanya membawa wadah yang terbuat dari anyaman bambu disebut telombong. Dan membawa tampah untuk "menyaring" gabah yang berisi dan gabah yang kosong. Cakupan ngasag bukan hanya soal itu saja melainkan memetik padi sisa panen. 

Orang yang rajin ngasag biasanya mendapatkan setengah karung atau lebih, semua tergantung rezeki yang dicarinya. Bagi saya sendiri ngasag adalah berkah bagi semua orang yang ingin mencari rezeki. Bersyukur di desa tidak ada diskriminasi soal ngasag.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...