Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Makna Selamatan Kematian (Kaulan)

Waktu sembahyang Subuh tinggal menanti satu bedug lagi. Mata Ki Bodin tampak mulai bergelayut. Maka Cebolang mencoba mengusir kantuk sang penjaga masjid itu dengan mengajaknya berbincang, "Kangmas Bodin, saya ingin tahu. Pada umumnya orang yang meninggal itu didoakan dengan selamatan. Saya belum tahu maksudnya, apakah ini sudah menjadi adat kemufakatan ataukah ada tuntunannya?"

Ki Bodin mulai terbuka lebar matanya, lalu menjawab, "Kanjeng Kiai pernah memerintahkan kepada saya: 'Hai Bodin, karena kamu ini sudah termasuk golongan kaum, sering diundang dalam acara selamatan, diminta memberi doa dalam segala macam kenduri, mendoakan arwah dan selamatan, lantas jika ada yang bertanya tentang tata-cara bagi orang yang sudah meninggal dunia sampai peringatan seribu harinya, bagaimana jawabanmu?'

"Saya pun menjawab sebisanya. Kanjeng Pangeran malah tertawa mendengar jawaban saya itu, lantas berkata: 'Hai Bodin, kamu harus tahu, kalau ditanya seperti itu maka jawabannya demikian. Menurut Kitab Tanajultarki (Tanazzul Taraqqi, menurun dan mendaki), asal mula selamatan surtanah bagi orang yang meninggal itu, bermula dari menempatkan jisimnya pada kain kafan serta menggusur tanahnya. Maksudnya, yang semula berada di alam sahir (saghir, kecil) sekarang sudah pindah ke alam kabir (kabiir, besar), yang abadi keadaannya, atau telah kembali ke asalnya.

"Orang meninggal itu diperingati pada hari ke-3. Itu dimaksudkan untuk menyempurnakan empat macam anasir (unsur- unsur), yaitu tanah, air, api, dan angin. Selamatan 7 hari dimaksudkan untuk menyempurnakan kulit dan bulu. Selamatan 40 hari itu adalah untuk menyempurnakan bawaan dari pihak ayah dan ibu, yakni yang berwujud darah, sumsum, daging, isi perut, kuku, rambut, tulang, dan kedelapan otot. Selamatan 100 hari adalah untuk menyempurnakan sifat badan wadag (jasmani). Selamatan pendhak sapisan atau 1 tahun adalah untuk menyempurnakan kulit, daging, dan isi perut. Selamatan pendhak kapindho atau 2 tahun adalah untuk menyempurnakan keadaan semuanya. yakni kulit, darah, dan sebagainya, hingga tinggal menyisakan tulang. Dan selamatan 1.000 hari itu adalah selamatan yang terakhir, yakni untuk menyempurnakan segala bau dan rahsa. Pada selamatan 1.000 hari itulah hilang bau dan rasanya, keris yang dipisahkan dari sarungnya. Tak ada keris yang masuk ke dalam sarungan, tapi sarungan yang memasuki keris."

"Begitulah apa yang pernah saya terima dari Kanjeng Pangeran Tembayat. Adapun mengenai Kitab Tanajulturki itu dikenal juga dengan nama Kitab Adam Sarpin. Namun demikian selama ini belum ada yang pernah menanyakannya ke padaku, baru engkau saja, Dimas Cebolang. Wah, rasanya sekarang sudah masanya memukul bedug."

Kutipan teks di atas merupakan bagian dari naskah novelisasi Serat Centhini Jilid 3. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...