Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Album Perangko Peringatan Seabad Bung Karno #2

Artikel sing wingi tek terusna maning men aja penasaran sakabeh ingsi album perangko gie. Halaman kewolu ana gambar perangko rega 015 warna dasar coklat gambar stadion Gelora Bung Karno sing nduweni keterangan pembangunan nang Indonesia kaya gedong tingkat, jambatan semanggi lan lainné. Selain gue ana uga seri 1961 Ayunan Cangkul Pertama gambar Bung Karno agi macul sing diregani 75 Sen warna dasar ireng.

Seri 1965 Hotel hotel Pariwisata sing gambarna sakabeh hotel nang tempat wisata selain gue ana gambar Bung Karno uga nang pinggiré. Ana hotel Samudera Beach Hotel rega 10 +/- 5 warna dasar ijo,  Hotel Ambarrukmo Palace rega 25 +/- 10 warna dasar coklat. Taun 1966 seri Presiden Sukarno ket kang rega 1 Sen tekan Rp 25 gambar rainé Bung Karno. Perangko gie sekitar 21 perangko. 
Koleksi perangko Presiden Soekarno

Seri 1962 Masjid Istiqlal nang halaman 10 ingsi  4 gambar masjid Istiqlal rega 30 Sen tekan 3 Sen. Selain gue ana seri 1962 Monas ingsi 4 perangko rega 1 tekan 6 rupiah. Halaman sewelas ingsi tulisané Sukarno sing menyatakna mbangun masjid Istiqlal go umat islam Indonesia.

Halaman terakhir ana gambar manuk cenderawasih rega Rp 0,60 ana keterangan yen Papua atawa Irian Jaya mlebu meng kuasané Republik Indonesia. Ana seri 1963 Cetak Tindih Irian Barat ingsi 4 perangko gambar Bung Karno kur bedané ana tulisan Irian Barat nang nduwur tulisan Republik Indonesia, perangko gie diregani kang 1 rupiah tekan 5 rupiah. 

Taun 1963 ana Seri Irian Barat gambar peta Indonesia ana bendera sing nanceb nang Sabang lan Merauke diregani Rp 0.12 lan Rp 0.17 warna dasar coklat. Perangko gambar wong terjun payung bang peta Irian Jaya diregani Rp 0,20 lan Rp 0,50. Seri 1963 ana Tugu Irian Barat sing diregani 100-600 rupiah. Halaman cover ana cenderamata filatelie gambar Bung Karno.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...