Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Gorengan Kelapa Muda

Gorengan Kelapa Muda 

Aku terbangun dari tidur siangku karena gempa lokal yang disebabkan oleh hantaman keras dari batang pohon kelapa yang ditebang. Pohon kelapa itu jatuh dan menggerakan tanah di dekatnya, buah kelapa bucah terlempar ke arah yang tak menentu. Ada yang pecah dan ada yang tetap mulus.

Penenbangan pohon kelapa dekat rumahku ternyata tidak hanya satu pohon saja melainkan tiga pohon sekaligus. Tentu saja ada rezeki tersendiri dari penebangan pohon kelapa yang sudah tua itu. Berbutir-butir kelapa muda dan tua terkulai, siapa yang ambil itulah miliknya. Jangan lupa pondohnya masih ada! Siapa mampu memembelahnya dialah yang boleh mendapatkan. Teman-teman tahu kan apa itu pondoh? Pondoh adalah bahasa Jawa yang berarti bagian muda dari mayang, janur/daun kelapa yang berwarna putih gading. Biasanya digunakan untuk dijadikan sayuran atau dimakan langsung.

Berhubung saking banyaknya kelapa muda yang diambil airnya saja oleh para penebang pohon kelapa, saya kumpulkan untuk dipergunakan daging kelapa dan batok kelapanya. Sekitar lima buah yang terkumpul. Sempat pusing juga mau dijadikan apa, ibu saya sendiri sudah mempunyai rencana untuk dijadikan perkedel kelapa muda dan selai kelapa muda (enthèn). Saya sendiri ingin membuat olahan kreasi menarik dari daging kelapa muda. Akhirnya saya mempunyai ide untuk membuat gorengan kelapa muda. 

Cocok Dimakan Saat Musim Hujan Dengan Obrolan Yang Tidak Penting

Baiklah aku akan jabarkan cara membuat gorengan kelapa muda yang sangat jarang ditemui di warung-warung.

Alat Dan Bahan
Pisau dan talenan
Wadah dan seperangkatnya
Alat penggorengan dan seperangkatnya
Minyak goreng
250 gram Tepung terigu
1 Gelas air mineral
3 Sendok gula pasir
1/2 sendok teh Garam
1/2 Kelapa muda yang agak tua (degan wareg)
2-3 Pisang kepok/pisang yang biasanya untuk digoreng

Cara
Daging kelapa muda agak tua dan pisang diiris dadu/panjang agak tipis
Campur tepung terigu dengan air mineral dan campurkan gula pasir sekitar tiga sendok hingga menjadi adonan yang tidak terlalu encer ataupun padat.
Setelah adonan siap maka campurkan dan aduk daging kelapa muda agak tua dan potongan pisang
Goreng adonan tersebut dengan api sedang.
Goreng hingga kuning keemasan atau kuning muda.

Demikianlah cara membuat camilan enak yang tidak dijual di warung-warung ataupun rumah makan lainnya. Selamat mencoba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.