Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Lek-lekan Manten

Suasana Lek-lekan Manten Dengan Permainan Gapleh

Bulan Mulud dalam kalender Jawa adalah salah satu bulan istimewa dalam kalender campuran Islam dan kebudayaan Jawa. Bulan istimewa tentunya dianggap bulan yang suci, agung, ataupun baik. Dari anggapan itulah mengapa masyarakat muslim jawa sering mengadakan hajatan berupa khitanan ataupun pernikahan. 

Sebelumnya saya sudah membahas apa itu lek-lekan. Untuk menginggatkan kembali lek-lekan manten adalah malam dimana orang yang diundang untuk bergadang untuk menemani sang pengantin. Sederhananya bisa dibilang begitu. Lek-lekan sendiri merupakan tradisi kondangan yang spesial untuk anak muda maupun orang dewasa. 

Saat lek-lekan manten biasanya tamu diberi kartu remi atau kartu gapleh untuk bermain bersama dengan orang lain yang diundang. Berbagai panganan tradisional disediakan dengan minuman berupa air putih, teh maupun kopi. Sajian khas khusus dewasa juga tersedia seperti minuman keras dan rokok.

Umumnya lek-lekan manten sampai pada jam 12 tengah malam hingga jam 1:30 dini hari. Saya sendiri mempunyai standar pulang lek-lekan manten hanya sampai jam 11 malam saja, dengan alasan kasian ke pengantin yang sudah capek dan badan diri sendiri yang kurang bagus untuk bergadang.

Lek-lekan manten paling pas datang pada jam 10 malam sehingga tidak lama-lama untuk bergadang. Saya sendiri pernah datang pada jam 9 malam yang akhirnya lek-lekan manten hingga 3 jam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.