Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Bali Di Akhir Kunjungan I

Judulnya membuat saya sedikit sedih tapi itu memang yang harus terjadi. Keinginan untuk hidup dan bekerja di Bali hancur karena sesuatu yang belum sepakat dalam hidup. Maklumlah ya hahahaha. Sehari ini diisi dengan kegiatan menusuk sate dengan Rosi dan Bu Haji sampai selesai. Lumayan banyak jumlah daging ayam yang kami tusuk. Dalam mengisi hari tak jauh dari sepotong gosip ataupun pembicaraan tidak penting saat kami menusuk sate. Memang menarik untuk membicangkan hal tidak penting ini hahahaha. Bukan hanya saya saja tapi bu Haji mungkin juga seperti itu dengan karyawannya. Hahaha.

Suasana Hari Raya
Pembicaraan mulai dari budaya Madura sampai soal hal yang paling tidak layak diperbincangkan muncul begitu saja dari mulut kami. Hahaha hihihi pun pecah begitu saja menggema dalam ruangan. Kali ini Bu Haji tidak banyak bicara seperti sebelumnya maklum saja dia terlalu capek akhir - akhir ini. Mungkin saja dia kecapekan karena ditinggal karyawannya. Bayangkan saja dalam satu hari hanya tidur beberapa jam saja. Siklus hidup Bu Haji tidaklah rumit hanya berat saja. Pagi hari dari jam 7 pagi sampe jam 11 beliau memotong daging ayam untuk sate dilanjut dengan membuat bumbu sate, mungkin jam 12 siang sampai jam 3 sore istirahat. Persiapan dagang dimulai dari jam 4 sore, berlanjut pada kegiatan berdagang sate sampai jam 3 atau 4 pagi. Begitulah siklus bu Haji yang sangat berat bagi saya.

Kegigihan bu Haji dalam usaha tidak pernah saya ragukan lagi. Jiwanya yang besar dan sikapnya yang sederhana membuat saya kagum. Nilai aset yang dimiliki bu Haji hasil jerih payah dalam berusaha tidak membuatnya sombong apalagi bermewah - mewahan. Kamarnya saja sangat sederhana. Hanya dinding bambu untuk kamarnya. Berbeda dengan anaknya yang tidur di rumah gedung sebelahnya yang terbilang mewah. Kontras bukan?! Namanya juga ibu sayang anak.
Kalau membicangkan soal bu Haji mungkin tidak akan pernah tamat dalam satu kali menulis. 

Hampir Semua Cakep
Biarkan bu Haji menikmati semua kegigihanya dan biarkan dia mencari untuk anaknya tercinta. Saya juga sangat berterimakasih atas makanan yang dia berikan selama saya berada di sana. Tak cukup doa sehari saya untuk membalas kebaikanya. Begitu juga dengan kebaikan bu Joni (Ibu Kos) yang selalu mengantarkan jajanan, makanan berat ataupun teh/kopi. Sungguh tak ada balasan yang pantas untuk mereka yang sudah baik sekali.

Agenda eksplorasi saya alokasikan ke malam hari. Tidak ada lagi jalan - jalan di siang hari karena takut dimarahi by Haji (anaknya disuruh jalan mulu). Rencana malam ini hanyalah menikmati deburan ombak malam pantai Sanur.

Rosi yang jarang berjalan kaki, kali ini saya ajari dia untuk berjalan kaki agak jauh, biar merasakan keindahan Bali dengan jalan kaki. Sambil berjalan kaki, lidah menjilat nakal ke ujung - ujung kenikmatan es krim murah produk dari Singapura. Nikmat ternyata apalagi di malam purnama yang cerah.

Suasana Di Depan Pura
Tepat di perempatan Tukad Nyali dengan Tukad Balian ramai orang berdatangan untuk mengikuti lomba nyanyi kidung religius Hindu Bali yang diselenggarakan banjar bersangkutan. Cukup bergengsi juga tingkatan lomba itu. Tingkat kota!!

Berjalan jauh menuju ujung timur sampai mendekati perempatan pantai Sindhu kami berhenti sejenak karena ada keramaian yang dibuat oleh kentongan yang dibunyikan oleh para pemuda. Tampak rumah itu dihiasi banyak sekali karangan bunga mulai dari pejabat pemerintahan sampai kepengusaha kelas tinggi. Salah satu tokoh Sanur meninggal dunia, wajar saja halamannya penuh oleh karangan bunga. Wawancara akan kebudayaan dan tradisi Bali saat upacara kematian. Bagi saya upacara kematian untuk orang yang mempunyai pangkat atau derajat lebih tinggi di Bali sangatlah rumit. Mulai dari sesaji yang berbeda, upacara yang hampir dua minggu dan banyak lagi. Nampak ribet tapi menarik bagi saya.

Pantai Sindhu Malam Hari
Pantai Sindhu yang masih satu garis bibir pantai Sanur malam ini tidak begitu ramai mungkin karena lain hal menyebabkan pantai ini nampak sepi saat malam. Tujuan ke pantai sebelumnya untuk belajar fotografi menggunakan tripod hanya saja kepala tripod lupa tidak terbawa dan di sini juga tripods lupa tidak dibawa pulang kembali. Ya sudahlah semoga kedepannya bisa beli kembali.

Lebih dari seratus pose dan hasil jepretan membuat saya dan Rosi cukup puas. Bertemu dengan kawan - kawan 'nakal' Rosi sungguh membuat saya lebih tahu apa artinya kehidupan. Tanpa mereka saya tidak tahu nakal seperti apa, tidak tahu bersyukur itu bagaimana, tidak tahu bergaul seperti apa dan banyak lagi. Walaupun dalam katagori minus, saya tetap hormat kepada mereka. Yang masih saya ingat adalah Lama. Nama yang sebagai bahan dagelan kawan - kawannya. Nama aslinya sebenarnya Baru!

Kegembiraan Saat Itu

Malam ini kami memutuskan untuk makan malam di pinggir pantai. Menu yang tersedia adalah mie goreng (bukan mie instant) dan nasi goreng. Bagi saya mie goreng yang paling enak selama ini saya makan adalah di Sanur. Bumbu pas, tidak ada MSG dan porsi pas. Enak pokokè!
Perut sudah membuncit karena penuh, kantuk pun menyerang perlahan..........

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...