Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Kubangpari Awal Tahun 2022

Setiap tahun Kubangpari selalu memunculkan wajah yang berbeda baik pada musim tanam atau musim panen. Bentangan sawah yang indah selalu menjadi daya tarik dari Kubangpari, daya tarik itu bahkan sudah ada sejak dahulu. Teringat masa kecil di mana bentangan lurus jalan raya dari selatan ke utara, di tengah terdapat pohon ketapang dan pohon kapuk randu. 

Kini semua berbeda dan tak mungkin sama, waktu yang berjalan takkan sama cerita, walaupun jarum jam berpuluh miliyar kali melewati 12 sampai ke 12 lagi. Program pemerintah yang semakin banyak membuat daerah selalu berrias diri, baik untuk memakmurkan masyarakat ataupun para tikus. 

Program desa membawa jalan sawah bes muntil semakin ramai oleh pengunjung, semua orang datang untuk berswafoto. Bukan itu saja mereka juga datang untuk sekedar makan surabi dan kopi hangat. 

Foto di atas adalah salah satu program desa yang terwujud. Program satu desa satu destinasi wisata. Beruntung Bangunsari mempunyai sawah yang cantik, dan di sinilah mereka menyampaikan proposalnya. Tampak jajaran warung bedeng dibuat untuk menggaet cuan yang masuk dari pada pengunjung. Jembatan pandang swafoto jadi hiburan tersendiri yang entah kapan akan bertahan, karena sekali seafoto gak mungkin akan ada swafoto 1000 kali di tempat tersebut.

Udara segar, pemandangan yang bagus, jalan dan akses yang mudah menjadi penunjang yang baik untuk kegiatan pariwisata. Kini jalan Kubangpari - Cikarang menjadi semakin ramai.

Gazebo utama sebagai 'kantor' tempat wisata dan tempat karcis retribusi, untuk tarif retribusi sendiri hanya sebesar Rp 3000 saja. Lumayan terjangkau, tapi entah sampai kapan akan ada yang swafoto di tempat itu lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...