Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Berkemah Di Sawah

Kami sangat hangat saat itu, awal Februari.

Rylo, Gingin dan Saya berencana untuk membuat kemah di tengah pesawahan yang sedang menghijau, tepatnya di pesawahan belakang rumah saya, Kubangpari Kulon. Perencanaan ini hanya sebatas small talk sehabis pesta durian, malam itu. Beruntung rencana yang sekedar basa-basi akhirnya terjadi. Berbekal peralatan kemah sederhana yang saya dan Rylo punyai seperti tenda dome, satu lampu petromak, dua tiker, satu sleeping bag dan satu selimut.

Peralatan sederhana itu kami boyong ke gubug di tengah pesawahan. Memang tidak ada lahan khusus untuk mendirikan kemah hanya saja ada lahan cukup luas yang sangat pas dengan ukuran tenda yang kami bawa. Jadi kami mendirikan tenda di tengah gubug!!! Yang penting berkemah hahahaha.

Ilustrasi Sawah

Tenda sudah siap dipakai tentu saja kami yang sudah kenyang dengan bakso, durian dan biji durian bakar merasa butuh istirahat. Tak ada percapakan panjang di malam ini kecuali Gingin yang cukup lama menelpon sang kekasih. Saya sendiri merasakan nikmatnya tidur di tenda malam itu, maklumlah perut kenyang.

Bukan kokok ayam yang membangunkan kami, melainkan sorot sinar matahari yang kuat sehingga membuat mata terbuka dari tidur. Wah rasanya nikmat sekali!!! Rylo yang bangun duluan pergi ke rumah untuk menyiapkan makanan. Sekitar sejam Rylo datang dengan nasi goreng Jawa dan jengkol!!! Nikmatnya!!

Kesimpulannya bahagia kita yang buat sendiri bukan dicari! Terima kasih Tuhan!
Salaam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.