Kenangan Kereta Lokal Banjar - Kroya

Stasiun Maos

Ajajajan.....ajajajan.... ajajajan....tuut...tuut....
Sepur kruduk.....sepur kruduk....

Dahulu kala!
Untaian pengawal cerita yang sangat klasik dan melegenda. Ya harus diakui kalimat ini begitu sakti untuk menyihir setiap pendengarnya. Yuk mari baca sejarah atau pengalaman saya menggunakan kereta lokal yang konon mati/dihentikan karena ulah masyarakat yang enggan membayar tiket atau bayar tiket tapi di atas gerbong!!! Baiklah kita mulai saja ya!

Menurut literasi yang ada di internet kereta lokal yang menghubungkan Banjar dengan Kroya sudah lama sekali beroperasi dan berakhir pada tahun 2000. Kenapa berakhir? Bukannya saat itu selalu penuh penumpang? Kerugian ini terbilang miris karena banyak penumpang yang tidak membeli karcis maupun membeli/membayar langsung ke petugas di atas gerbong, kita tidak tahu apakah petugas menyerahkan segenggam uang yang didapat di atas gerbong atau tidak. Yang pasti kerugian itu karena income yang turun! 

Bencong Pedagang Pengamen Copet

Apa yang saya rasakan dulu saat menjadi pengguna jasa kereta lokal ini adalah suatu kesumpekan sebuah gerbong dengan hawa khas neraka yang sangat sumuk alias gerah. Bagaimana aroma neraka tidak muncul di setiap gerbong rangkaian kereta lokal ini wong setiap orang boleh membeli karcis tanpa nomor duduk, pedagang bisa masuk, pengamen bisa masuk dan orang-orang lainnya bisa masuk ke gerbong. Dan ingat dalam gerbong kereta lokal ini tidak ada kipas angin ataupun pendingin ruangan. Bisa dibayangkan sangat panas bukan. Beruntungnya setiap orang bisa menikmati atau bahkan sebagai oleh-oleh non bendawi yang bisa berjam-jam untuk bercerita suasana dalam gerbong.

Boleh disebutkan berbagai pedagang menjajakan dagangannya di dalam gerbong, saya ingat pedagang pecel yang selalu berkeliling gerbong dari ujung depan sampai belakang. Menariknya pedagang pecel ini adalah selalu rapih khas wanita Jawa, susunan sayuran yang sangat tertata rapi, bumbu dan cita rasa pecel yang khas dengan campuran bunga kecombrang/combrang. Pecel dijual dalam pincuk daun pisang segar. Untuk memakannya biasanya diberikan sumpit atau sendok. Harganya tidak terlalu mahal mungkin saat itu Rp 3000 mungkin juga dibawahnya. Saya lupa! Pedagang pecel biasanya perempuan dan selalu mengucapkan cel pecel....cel pecel....

Sumber weekendescape.co.id 

Selain pedagang pecel saya ingat sekali pedagang lainnya misalnya pedagang nasi rames yang rasa dagingnya begitu khas ditambah dengan serundeng kelapa. Pedagang es/sirup yang dibungkus dalam plastik dengan varian rasa teh manis, atau rasa sirup lainnya. Sirup ini dibungkus oleh plastik sekaligus sedotan yang menempel di atasnya. Si pedagang membawa es ini dalam sebuah tremos es besar dan dibawa keliling gerbong dan selalu mengucapkan tehhhhh es teh.... 

Saya yang masih bocah selalu tertarik untuk membeli barang dolanan misalnya dolanan kotok-kotok di mana permainan ini dibunyikan dengan cara memutarkannya. Mainan ini dibuat dari bahan bambu. Selain pedagang mainan kotok-kotok ada juga mainan kertas pelangi yang disusun dengan berbagai warna yang indah. Dan yang selalu saya beli saat naik kereta lokal ini adalah kipas angin!!! Kipas angin tradisional yang dibuat dari anyaman bambu ini sangat istimewa. Dalam anyaman bambu biasanya digambar atau dilukis dengan berbagai buah/pemandangan/ayam jago dan yang lainnya.

Bencong! Agak kurang manusiawi sih menyebutnya tapi mau ditulis apalagi?! Transgender mungkin ya! Dalam serangkaian kereta api ada saja transgender yang masuk untuk sekedar mengamen dengan berbagai macam guyon ataupun nyanyian yang bikin perut mules karena ketawa terus. Ya menghadapi pengamen transgender tidaklah mudah, saat mereka mendekati Kita untuk mengamen perasaan Kita sendiri terhibur karena lucu dan juga waspada karena takut. Pernah dulu satu gerbong dengan transgender yang mengamen namun ribut dengan geng pengamen transgender lainnya. Suasana menjadi kacau oleh debat mereka. Selepas berdebat panas mereka kembali bernyanyi ewer...ewer...ewer...crot.

Bukan hanya pengamen transgender saja yang ikut berkonstribusi susana dalam gerbong kereta lokal ini tapi juga pengamen laki-laki bisa ataupun perempuan dari anak-anak sampai kakek nenek. Mereka biasanya mengamen dalam bentuk nyanyian dengan membawa corong dan salon portable yang memiliki suara khas. Ada juga mengamen dengan alat musik seperti gitar. Berbagai peristiwa seperti pengamen ngamuk ke penumpang ataupun ngamuk ke pedagang ataupun sesama pengamen pernah saya saksikan. Ya begitu mencekam saat itu apalagi sang pengamen membawa alat tajam untung saja di sebelah saya ada bapak TNI yang langsung melerai. 

Sekali saja pernah menyaksikan seorang copet yang tertangkap basah oleh penumpang. Itu membuat saya syok ya walaupun saat itu saya tidak memepunyai dompet tapi saya khawatir dompet bapak saya hilang. Saya tahu bapak saya selalu memasukan uangnya di slepen atau wadah mbako kadang juga disimpan di kupluk sehingga aman menurut dia karena si copet tidak menyadari di kupluk ada duitnya. 

Stasiun Dan Seribu Halte

Kereta lokal ini kalau gak salah (berarti benar) berwarna merah! Dulu membedakan kelas kereta cepat atau tidaknya dari warna badan lokomotif yakni merah atau putih. Kalau putih biasanya itu yang cepat!. Oh ya stasiun terminus untuk kereta ini yakni Banjar dimana stasiun terdekat dari rumah saya  yang ada di Pamarican. Di stasiun terminus kereta lokal ini mesti membalikan lokomotifnya me arah timur untuk menuju stasiun terminus Kroya. Entahlah pembalikan kepala lokomotif itu dengan cara apa hanya saja waktu tunggu lama sekali. #
Tiket berwarna merah berukuran bungkus korek api itu bernilai Rp 700 perak saat itu tapi terakhir saya beli Rp 2500 atau Rp 3000 kalau ga salah. Untuk mempermudah petugas karcis biasanya tiket dijegreg pake alat khusus sehingga menimbulkan bolongan kecil. Sementara saat karcis menjadi Rp 2500 diganti dengan coretan bolpen.

Sumber Twitter @potretlawas

Saat hendak berangkat kereta bergerak dengan hentakan khas hingga 3 kali Dan berjalan perlahan hingga kecepatan maksimal yang dia punya. Namanya juga kereta lokal jadi setiap stasiun kecil atau juga disebut halte juga disinggahi. Perjalanan dari Banjar ke Maos bisa mencapai 4 jam karena kereta lokal ini selalu berhenti di halte dan stasiun lainnya. Selain faktor tersebut kereta lokal ini juga selalu mengalah dengan kereta lainnya utamanya yang jarak jauh seperti dari Yogyakarta ataupun Surabaya. Kereta lokal ini melintasi stasiun dan halte diantaranya yang saya masih ingat adalah Langensari, Rancakole, Sidarja, Cipari, Gandrungmangu, Kawunganten, Pasar Kliwon, Jeruk Legi, Sikampuh, Maos, Mlewung, dan masih banyak lagi. Yang paling menjemukan saat itu adalah saat dimana kereta sedang menunggu untuk bersilang, bisa-bisa waktu tunggu sampai setengah jam atau kurang. 

Sumber riskynuraeni.com

Bangku penumpang ada dua tipe diantaranya ada yang saling berhadapan ada juga saling membelakangi punggung semacam bangku panjang tanpa sandaran. Kadang saat kereta penuh para penumpang masuk ke gerbong barang di bagian paling belakang rangkaian kereta. Selain di gerbong barang para penumpang juga sering berdiri di bordes maupun di dalam toilet. Emang ada trik tertentu untuk menghindari bayar ke petugas di atas kereta misalnya saja selalu berjalan-jalan dari ujung rangkaian kereta api dan diam di toilet. Asal kuat saja dengan bau khas toilet hahahaha tapi itu merupakan perjuangan bagi orang yang tidak mau bayar! 

Pernah suatu waktu saat mudik ke Maos, dimana semua orang menggunakan jasa kereta api sehingga banyak sekali penumpang yang tidak tertampung di dalam gerbong penumpang dan akhirnya tertampung di gerbong barang yang jumlahnya 3 gerbong. Saat itu saya yang masih kecil (umur 9/10) menangis karena susana yang menyeramkan (panas, sumpek, duduk bareng ayam dan sayuran) selain karena susana itu saya menangisi ikan hias yang mati kepanasan! Ikan hias ini adalah  oleh-oleh yang dibeli di pasar Pahing - Maos, saya juga menangisi perpisahan antara saya dan saudara yang lama tidak ketemu.

Perlu diketahui pada zaman itu, stasiun Banjar adalah stasiun yang cukup besar karena mempunyai dipo perawatan kereta api dan fasilitas lainnya. Stasiun besar lainnya yakni Sidarja, Maos, dan Kroya. Ingat sekali saya saat menunggu kereta tersebut bapak saya selalu menonton tv hitam putih yang disediakan stasiun Banjar. TV ini dipasang di atas untuk menghibur para penumpang sebelum masuk ke kereta. Acara yang saya ingat saat itu adalah warta berita dua jam saja dari TVRI. Kenapa saya ingat selalu acara ini? Jelas saya sebagai anak-anak jenuh dan muak dengan acara berita yang super lama apalagi ditambah berita-berita yang menyeramkan bagi saya.

Akulturasi Budaya

Tidak ada akulturasi budaya kalau tidak ada infrastruktur yang menunjang ataupun kebutuhan diantara kedua suku. Akulturasi antara Jawa dan Sunda terlihat jelas. Di sinilah orang Jawa dan Sunda berbaur menjadi satu. Saya pikir orang Jawa di kereta ini lebih mendominasi terutama dari para pedagang. Kebanyakan pedagang bersuku Jawa sehingga mau tidak mau banyak akulturasi misalnya dengan adanya Sunda Badeol yakni bahasa Sunda dengan logat Jawa. Sebenarnya pedagang dari kedua belah pihak mempunyai wilayah sendiri misalnya pedagang dari Banjar hanya sampai ke stasiun Sidarja saja dan sebaliknya.

Sumber jakober.worpress.com

Pergerakan manusia Jawa lebih banyak mengambil andil dalam proses akulturasi ini. Kenapa saya bisa menyimpulkan seperti itu?! Karena saat itu kebanyakan penumpang kereta lokal ini adalah orang Jawa yang mencari penghidupan di wilayah Jawa Barat. Penghidupan mereka jalankan sebagai pedagang yang membeli bahan mentah ataupun barang yang khas dari Jawa Barat misalnya gula aren, ataupun barang lainnya. Begitu sebaliknya orang Jawa banyak berjualan baju batik, makanan tradisional, tembakau dan yang lainnya. Selain sebagai ajang mencari penghidupan, kereta ini sebagai wahana para diaspora Jawa untuk pulang kampung ke tanah leluhurnya (biasanya wilayah Banyumasan).

Semenjak berhenti beroperasi, diaspora Jawa sangat jarang untuk pulang ke tanah leluhurnya bisa dibilang setahun sekali saat lebaran. Dan perkembangan akulturasi pun seperti berjalan sangat lamban. Akankah kereta lokal ini dibuka kembali untuk kepentingan perekonomian di wilayah selatan Jawa? Semoga saja suatu hari nanti dibuka kereta lokal yang bisa menhidupkan kembali perekonomian rakyat di wilayah ini. Saya kira jika diadakan kembali akan sukses karena sistem keamanan dan sistem kereta api sekarang lebih manusiawi dan beradab.

Jika dihidupkan kembali dari stasiun mana ke stasiun mana? Saya sendiri akan lebih senang jika dihidupkan kembali dengan rute Tasikmalaya - Kutoarjo/Kebumen jadi lebih luas lagi. Semoga saja ya!

Salam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parfum Garuda Indonesia: Parfum Yang Mempunyai Hukum

Kata Serapan Bahasa Portugis dalam Bahasa Indonesia

Jenis-Jenis Kenduri Dalam Adat Islam Jawa