Nyanyian Kudus Dari Langgar Desa

Dibesarkan di desa tidak mungkin melupakan aroma dan suasana khas desa, kekhasan tersebut selalu tersimpan dalam otak dan hati para penduduk desa baik yang sudah menetap di kota ataupun sekedar merantau ke luar negri. Selain hal tersebut tradisi agama pun tak luput dari ingatan. Ya desa membawa keindahan tersendiri!

Kidung Nirwana 

Magrib atau petang hari di mana aktivitas keagamaan paling utama di desa. Hampir semua jemaat melakukan aktivitas keagamaan bersama-sama di surau/langgar maupun masjid terdekat. Panggilan kudus dari rumah Tuhan mengawali aktivitas tersebut, berbagai suara khas muncul di pengeras suara yang terpasang di setiap langgar maupun masjid, gemuruh bersahutan bak kokok ayam pagi hari.

Terlepas panggilan kudus itu tak serta merta suara redup tenggelam oleh kegelapan petang hari namun kidung-kidung nirwana bersuara menyayikan pujian terhadap sang Kudus, junjungan alam, budi pekerti maupun sejarah akan tanah gersang di barat jauh. Berbagai lagam berseruak sesuai dengan kesukaannya baik alunan khas Jawa sampai alunan khas Makkah maupun Madinah. Saya sendiri paling suka dan terasa merinding dengan suara khas kakek-kakek yang mengalunkan lagam Jawa. Nelangsa!

Ilustrasi: Sebuah Masjid

Kidung ini menggema untuk mengisi waktu saat sang pemimpin ibadat belum muncul maupun sedang dalam ibadat sunnah. Orang yang mengalunkan sebuah kidung mestinya hafal semua syair karena sangat malu jikalau Salah terlebih lagi suara disambungkan ke pengeras suara. Tak hanya satu orang saja yang bersenandung tapi semua jamaat baik orang dewasa maupun kecil, wanita pria semuanya bersenandung untuk memuji Ketunggalan!

Syair Menjelang Tidur 

Ada satu tradisi agama yang paling aku sukai saat malam Purnama ataupun terang bulan. Perjanji istilah kami untuk menyebut kidung-kidung khas Timur Tengah yang selalu disenandungkan saat upacara keagamaan. Bagaimana tidak menyentuh saat kidung-kidung klasik itu disenandungkan saat terang bulan. Seperti uro-uro dalam adat Jawa, dimana seseorang bersenandung untuk berpesan kebaikan kepada diri sendiri maupun orang lain. Perjajen ini biasanya dilaksanakan malam hari setelah solat isya sampai larut malam, paling lama sampai jam 12 malam. Diikuti oleh beberapa jamaat baik laki-laki atau pun perempuan. 

Imajinasiku tidak terlalu bagus untuk menggambarkan keindahannya dalam sebuah susunan huruf, menunggu kembali saat pas untuk mendapatkan inspirasi. Disambung lagi!

Salam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parfum Garuda Indonesia: Parfum Yang Mempunyai Hukum

Kata Serapan Bahasa Portugis dalam Bahasa Indonesia

Jenis-Jenis Kenduri Dalam Adat Islam Jawa