Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Nyanyian Kudus Dari Langgar Desa

Dibesarkan di desa tidak mungkin melupakan aroma dan suasana khas desa, kekhasan tersebut selalu tersimpan dalam otak dan hati para penduduk desa baik yang sudah menetap di kota ataupun sekedar merantau ke luar negri. Selain hal tersebut tradisi agama pun tak luput dari ingatan. Ya desa membawa keindahan tersendiri!

Kidung Nirwana 

Magrib atau petang hari di mana aktivitas keagamaan paling utama di desa. Hampir semua jemaat melakukan aktivitas keagamaan bersama-sama di surau/langgar maupun masjid terdekat. Panggilan kudus dari rumah Tuhan mengawali aktivitas tersebut, berbagai suara khas muncul di pengeras suara yang terpasang di setiap langgar maupun masjid, gemuruh bersahutan bak kokok ayam pagi hari.

Terlepas panggilan kudus itu tak serta merta suara redup tenggelam oleh kegelapan petang hari namun kidung-kidung nirwana bersuara menyayikan pujian terhadap sang Kudus, junjungan alam, budi pekerti maupun sejarah akan tanah gersang di barat jauh. Berbagai lagam berseruak sesuai dengan kesukaannya baik alunan khas Jawa sampai alunan khas Makkah maupun Madinah. Saya sendiri paling suka dan terasa merinding dengan suara khas kakek-kakek yang mengalunkan lagam Jawa. Nelangsa!

Ilustrasi: Sebuah Masjid

Kidung ini menggema untuk mengisi waktu saat sang pemimpin ibadat belum muncul maupun sedang dalam ibadat sunnah. Orang yang mengalunkan sebuah kidung mestinya hafal semua syair karena sangat malu jikalau Salah terlebih lagi suara disambungkan ke pengeras suara. Tak hanya satu orang saja yang bersenandung tapi semua jamaat baik orang dewasa maupun kecil, wanita pria semuanya bersenandung untuk memuji Ketunggalan!

Syair Menjelang Tidur 

Ada satu tradisi agama yang paling aku sukai saat malam Purnama ataupun terang bulan. Perjanji istilah kami untuk menyebut kidung-kidung khas Timur Tengah yang selalu disenandungkan saat upacara keagamaan. Bagaimana tidak menyentuh saat kidung-kidung klasik itu disenandungkan saat terang bulan. Seperti uro-uro dalam adat Jawa, dimana seseorang bersenandung untuk berpesan kebaikan kepada diri sendiri maupun orang lain. Perjajen ini biasanya dilaksanakan malam hari setelah solat isya sampai larut malam, paling lama sampai jam 12 malam. Diikuti oleh beberapa jamaat baik laki-laki atau pun perempuan. 

Imajinasiku tidak terlalu bagus untuk menggambarkan keindahannya dalam sebuah susunan huruf, menunggu kembali saat pas untuk mendapatkan inspirasi. Disambung lagi!

Salam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...