Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Dikembalikan

Dua hari yang lalu perasaan berkecamuk entah karena apa?! Tapi saya yakin firasat ada yang kembali mengusik pola pikir dan ketenangan hati. Terutama  pasca dihilangkaannya sebuah hubungan. Pagi itu bunyi pemberitahuan telpon genggam pintar saya berbunyi agak keras. Bunyi itu saya samakan dengan pemberitahuan lainnya baik itu SMS, MMS, eMail, Facebook dan yang lainnya. Entahlah emosi kian memuncak, mungkin sudah firasat!

SMS dari kantor pos, saya terima. Isinya menginformasikan bahwa barang kiriman/paket dari SF sedang dikirim. Orang yang cukup sebulan saya tinggalkan karena masalah jati diri saya. Kini kembali dengan perantara kantor pos. Sontak semua gemetar seakan mesin waktu mengaduk kembali peristiwa manis sebelumnya yang tak mungkin orang bisa lupakan; melupakan sebuah moment tidaklah mungkin tapi menerima kenyataan lebih memungkinkan bagi setiap orang dan bahkan keharusan.

Semua data tentang SF dibedah kembali termasuk memasukan nomor hpnya dan Instagram untuk menghubungi kembali. Respon tercepat dari WhatsApp. Dibalas dalam 15-20 menit kemudian. Berbasa-basi soal kabar menjadi pembuka tirai percapakan, tak banyak yang ditulis untuk menyampaikan segala sesuatu kepadanya. Saya pikir ini adalah jalan terbaik karena paham pada diri saya yang banyak dosa. Dia menanyakan kesembuhan dan Kesehatan saya. Pura-pura tidak mengerti. Dan diam. Dibalasnya kembali dia akan menjelaskan barang apa dan kenapa dikembalikan. Saya paham! 

Entah kapan mau dijelaskan, saya tidak peduli. Jelas saya paham pada diri sendiri. Bersifat memelas maupun untuk kembali dicintai, dikenang maupun hal manis lainnya bukan pilihan yang tepat bagi pendosa. Diam dan paham sudah cukup. Bukan soal tebak menebak apa yang dikirimkan kembali pada saya, tapi sebuah kepastian pasti barang itu. Hormat atau tidak hormat soal peristiwa ini saya tidak mempermasalahkannya, dipakai terus atau dibuang saya juga tidak mempermasalahkannya karena saat itu hanya sekedar memberi untuk mendapatkan manfaat dari barang tersebut. Sekarang saya tidak sedih/kecewa/ataupun hal melankolis lainnya. Saya hanya merasa bersyukur dan paham siapa saya. 

14/2/18 selepas olahraga. Pesan WhatsApp kembali berbunyi kali ini dari sahabat saya di kantor pos, memberi tahu bahwa kiriman sudah sampai. Mendung bukan halangan untuk mengambilnya. Selepas diambil bungkusan itu terbungkus rapih dengan koran dan solasiban warna krim. Saya buka acak karena koran pembungkus basah terkena air hujan. Masih seperti yang dulu masih rapih dan bersih barang itu saya buka dan kembali saya simpan di lemari. Kupikir ada secarik kertas sebagai pesan tertentu ternyata tidak. 

Saat itu hujan 

Sebagai kenangan hidup, tepat setelah membuka bungkusan itu saya tulis di sini. Terima kasih untuk semuanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...