Langsung ke konten utama

Hutan Lindung Gunung Gegerbentang Pamarican dan Refleksi Diri

1441: Hari Ke-16

Alhamdulillah Puji Tuhan hari ini semakin baik dari hari kemarin, pagi ini tidak terlalu meler. Hanya sore saja meler sampai hidung panas, nyeri tenggorokan sudah hilang ditelan pahitnya Methylprednisolone. Demam juga lenyap bagai kuntilanak bertemu cahaya matahari pagi, lenyap sudah. Istirahat, mengurung diri, olahraga ringan menjadi terapi sendiri buatku. 

Kegiatan hari ini berkunjung ke puskesmas Pamarican untuk saling intim dengan teman-teman seperjuangan dua tahun lalu. Bersyukur aku mempunyai mereka yang lebih mencintaiku, aku kadang tidak bisa membalas kecintaan mereka padaku. Skala cintanya tidak tervalidasi dengan alat ukur manapun, alhamdulillah Tuhan memberiku sahabat yang selalu membawa kebahagiaan.

Membaca buku elektronik sudah dua hari absen, sudah sedikit jenuh melihat layar telpon genggam. Mata sakit, pusing dan jenuh jadi alasan utama, kini saya beralih ke kajian filsafat. Saya ingin menggali kembali tema-tema dasar filsafat, sekarang bagian Ontologi dan Fenomenologi. Wah jika dibandingkan dulu (2018) saat pertama belajar filsafat, susah sekali mencerna apa itu fenomenologi dan ontologi, bersyukur hari ini paham!.

Kegiatan baca Alquran terhenti sehari saat sakit tenggorokan, kali ini hanya beberapa lembar saja dan juga tidak setiap waktu sembahyang. Merupakan penyesalan tersendiri terlebih membuang waktu suci ke dalam kesia-siaan. Karena sakit inilah yang harus dijalani untuk mengambil banyak hikmah yang terselip dalam setiap sudut-sudut kehidupan.

Terima kasih untuk harapan doanya, entah itu doa beneran atau mengaminkan formalitas. Tapi saya percaya itu bagian perhatian yang indah dan harapan yang baik untukku. Aku paham aku adalah Majnun yang selalu gila pada Laila, khusu dan tak peduli pada hal lain. Kamu...kamu...kamu... Hanya sayang Majnun yang hanya cinta pada Laila yang fana, bukan Laila yang hakiki, yang Maha-Maha dan segalanya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Menegang dan Mengeras Oleh Nyai Gowok

Ah...sialan! Padahal aku sudah kenal buku ini sejak Jakarta Islamic Book Fair tahun 2014 lalu! Menyesal-menyesal gak beli saat itu, kupikir buku itu akan sehambar novel-novel dijual murah. Ternyata aku salah, kenapa mesti sekarang untuk meneggang dan mengeras bersama Nyai Gowok . Dari cover buku saya sedikit kenal dengan buku tersebut, bang terpampang di Gramedia , Gunung Agung , lapak buku di Blok M dan masih banyak tempat lainnya termasuk di Jakarta Islamic Book Fair. Kala itu aku lebih memilih Juragan Teh milik Hella S Hasse dan beberapa buku agama, yah begitulah segala sesuatu memerlukan waktu yang tepat agar maknyus dengan enak. Judul Nyai Gowok dan segala isinya saya peroleh dari podcast favorit ( Kepo Buku ) dengan pembawa acara Bang Rame , Steven dan Mas Toto . Dari podcast mereka saya menjadi tahu Nyai Gowok dan isi alur cerita yang membuat beberapa organ aktif menjadi keras dan tegang, ah begitulah Nyi Gowok. Jujur saja ini novel kamasutra pertama yang saya baca, sebelumn...