Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

1441: Hari Ke-sembilan

"Jangan meniru perangai lampu, menerangi orang lain, tetapi diri sendiri terbakar. Tetapi contohlah perangan bulan, tiap-tiap dia bertentangan dengan matahari, dia mendapat cahaya baru". Al Kindi. Sama seperti perkataan kakak dari Imam Al Ghazali "Sadarlah saudaraku, jangan kau kau menjadi batu asah. Kau menajamkan yang lain, sementara dirimu tumpul". Dua kata mutiara ini mengantarkanku untuk segera menjadi bulan seperti Al Kindi ucapkan.

Hari ini memang terasa lebih nikmat dengan segala membaca buku, entah membaca untuk siapa ujungnya. Harapannya bisa berguna bagi diri sendiri, maupun bisa dikonstrubusikan ilmu atau pengetahuan dari hasil baca ke khalayak umum. 

Pagi
Kegiatan berkebun berlanjut dengan menanam jahe, semoga berguna walaupun sedikit karya. Tak mau dilalap waktu yang mengganas untuk ruang diriku yang semakin hari semakin sempit dan pengap. Udara segar dalam berkebun membuat diriku mendapat sebuah harapan layaknya tauge yang tumbuh dalam kegelapan yang mudah sekali rapuh. Tuhan, aku terlampau naif.

Siang & Sore
Entah apa yang ada dalam sel otakku, terlalu tegang hingga terasa kaku. Aku terdiam untuk melemaskan kekakuan saraf otak. Apa terlalu banyak baca dan mikir. Semoga bukan, semoga hanya kelelahan biasa. Ada yang istimewa dengan percakapan di Telegram, rasanya terobati rasa rindu dan memberikan kesadaran pengetahuan yang sebelumnya hanya sebatas ingin tahu. Terima kasih Kriboku. 

Dua kali telat nulis! Maafkan terlalu menyibukan hal sepele.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.