Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Posisi Sex Menurut Budaya Jawa

Berikut beberapa pose seks dalam kebudayaan Jawa:

1. SUDAKAGA
Sang wanita duduk dengan paha terangkat, ditempatkan di samping pinggang sang lelaki. Sang lelaki berada di bawah, menekuk kedua kakinya. Sang wanita bergerak menaik-turunkan pantatnya dengan penis yang sudah tertancap di dalam vagina. Posisi ini memungkinkan sang wanita me- nekan-nekankan waga purana (klitoris) dan idrêng (itil)- nya ke tulang kemaluan sang lelaki dan membuatnya cepat mengalami orgasme.

2. YUKMAPADA
Sang wanita tidur telentang sembari mengangkat kedua kakinya sehingga lubang vaginanya terlihat jelas. Sang le- laki berjongkok sembari memasukkan penisnya ke dalam vagina. Posisi ini memungkinkan ujung penis sang lelaki menyundul-nyundul G-spot (daging song) sang wanita dan memberinya kenikmatan yang luar biasa.
3. HIRANA
Posisi sang wanita menungging, kepala ditegakkan. Bobot tubuh bertumpu pada lutut dan lengan. Sang lelaki memasuk- kan penisnya ke vagina dari belakang sembari memegangi pinggul sang wanita. Posisi ini memungkinkan penis ter- jepit dinding-dinding vagina cukup rapat dan membuatnya cepat mengalami ejakulasi.
4. MALOKA
Sang wanita tidur telentang dan menempelkan betisnya ke paha. Posisi ini membuat vagina merekah dan penetrasi penis ke dalamnya bisa maksimal. Sang lelaki menelungkup di atas tubuh sang wanita, perut atau dadanya bertumpu pada lutut sang wanita, lalu mengeluar-masukkan penis ke dalam vagina dengan kecepatan sesuai dengan selera berdua. Posisi ini memungkinkan ujung penis sang lelaki menyundul- nyundul G-spot (daging song) sang wanita dan memberinya kenikmatan yang luar biasa.

5. HASTIKA
Sang wanita berada di bawah sembari membuka pahanya lebar-lebar (mengangkang) sehingga vaginanya merekah. Sang lelaki membungkuk dengan bobot tubuh bertumpu pada lutut, lalu mengeluar-masukkan penis ke dalam va- gina dengan kecepatan sesuai dengan selera berdua. Posisi ini memungkinkan ujung penis sang lelaki menyundul- nyundul G-spot (daging song) sang wanita dan memberinya kenikmatan yang luar biasa.
6. NAGABANDHA 
Sang wanita berbaring miring dengan pantat yang sedikit ditunggingkan. Sang lelaki memasukkan penisnya ke dalam vagina dari belakang. Posisi ini memungkinkan penis terjepit dinding-dinding vagina cukup rapat. Saat sang lelaki mengeluar-masukkan penisnya ke dalam vagina, sang wanita bisa memain-mainkan waga purana (klitoris) dan idrêng (itil)-nya dengan jari dan membuatnya cepat mengalami orgasme.
7. AWAMARMADA
Sang wanita tidur telentang dengan pantat diganjal bantal kecil, kedua kaki diluruskan. Gundukan vagina akan tampak menonjol serupa bukit. Sang lelaki menelungkup di atas tubuh sang wanita dan mengeluar-masukkan penisnya ke dalam vagina yang menyempit karena posisi paha wanita berdempetan. Posisi ini memungkinkan penis menancap ke dalam vagina sedalam-dalamnya. Ketika penis keluar-masuk di dalam vagina, sang lelaki bisa mengulum bibir sang wanita atau payudaranya. Sang wanita bisa membelai-belai punggung, dada, atau bagian tubuh sang lelaki yang bisa dicapai kedua tangannya dan memberinya kenikmatan yang luar biasa.
8. UPAWITIKA
Sang wanita tidur telentang, salah satu kakinya ditekuk dan telapaknya dijejakkan ke dada sang lelaki. Sang lelaki duduk menekuk kedua kakinya ke belakang, betisnya bertemu dengan paha. Posisi ini memungkinkan ujung penis sang lelaki menyundul-nyundul G-spot (daging song) sang wanita dan memberinya kenikmatan yang luar biasa.
9. HANGSASILA
Sang lelaki tidur telentang dengan kedua lutut agak ditekuk ke atas. Sang wanita berada di atas sang lelaki dengan lutut g ditekuk ke belakang. Pinggul sang wanita bebas naik turun untuk mencari posisi paling nikmat saat penis menerobos masuk dari bawah vagina. Posisi ini memungkinkan sang wanita menekan-nekankan waga purana (klitoris) dan idreng (itil)-nya ke tulang kemaluan sang lelaki dan mem- buatnya cepat mengalami orgasme.
10. WÊRSA
Sang lelaki berada di bawah, duduk dengan kaki diluruskan. Tangan sang lelaki menyangga tubuh sang wanita. Sang wanita berada di atas dengan posisi kaki membuka, menjepit pinggang sang lelaki. Tangan sang wanita berpegangan pada kaki sang lelaki.

Sumber artikel dam gambar dari buku Gatholoco karya Damar Shashangka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...