Makna Plesiran Bagiku

Plesiran Untuk Berkenalan Dengan Keimanan Orang Lain, Gua Maria Kaliori - Banyumas

Kadang kita tidak pernah tahu spa tujuan dari sebuah perjalanan yang membawa ke sebuah perbedaan dari alam, kebiasaan ataupun hal lainnya yang ada pada keseharian Kita. Kesadaran memang kadang tidak datang dengan sendirinya bahkan kadang "dia" datang bersamaan dengan adegan lain dalam kehidupan. Sebuah makna dan tujuan biasanya menjadi sebuah tolak ukur manusia untuk hal-hal tertentu yang ia inginkan dalam pikiran maupun jiwa.

Seberapa jauh dan berapa tempat yang pernah dikunjungi kalian dalam ritual plesiran?! Saya pikir lebih dari yang saya pikiran akan sebuah jumlah. Dari jumlah tersebut menjadi sebuah koleksi kehidupan yang tiap waktu terus bertambah, dan kadang kala "koleksi" itu musnah terbawa menuanya organ maupun masih tersimpan dengan apik dalam lorong-lorong rak memori sebuah organ. Jika kita panggil satu set "koleksi" itu untuk diceritakan kembali ke sanak saudara maupun sahabat, mungkin akan memunculkan susana yang istimewa baik sebuah kesedihan, kegembiraan maupun sebuah rasa yang tidak bisa dijelaskan kepada orang lain. Pernahkah berfikir dalam satu set "koleksi" perjalananmu mempunyai tujuan, makna yang jelas sesuai dengan kehendak jiwamu?! Apakah "koleksi" hanya sekedar penggembira saat "dipanggil" kembali?! Jawablah dengan nuranimu dan logikamu.

Beberapa buku kehidupan yang telah saya tulis dari waktu awal bisa menyimpan sebuah tragedi maupun satu lembar episode sebuah kehidupan hingga sampai sekarang, berbagai tempat telah saya kunjungi dan tertulis dalam lorong-lorong memori otakku. Sebagian mempunyai makna dan tujuan sebagian hanya untuk membeli sebuah tawa dan membeli sebuah ketenangan sesaat. 

Speedometer dalam hidupku memang belum sepenuhnya mempunyai jarak yang sama dengan jarak Bumi ke Bulan atau bahkan ke Mars. Selangkah dan selemparan batu dari tangan cerita tercipta dari sebuah jarak dan perjalanan, saya belum mempunyai tujuan dan makna utama!. 

Hingga sejauh tempat Matahari tenggelam di petang hari, kini Aku mendapatkan buliran-buliran lembut sebuah makna dan tujuan perjalanan yang saya buat. Kejenuhan ketawa-ketiwi yang saya bayar dalam sebuah perjalanan membuat saya merasa gersang dan tidak mantap untuk sebuah ruang kehidupan. Berbagai jenis kitab suci mengiringku untuk mendapatkannya. 

Sebuah Tujuan dan Makna!

Kehausan dan kekosongan akan makna membuka pintu jiwa mencari sebuah hal yang akan membuat saya menikmati sebuah orgasme dalam perjalanan. Kali ini dalam narasi kehidupan yang akan ku tulis, ku niatkan mencari sebuah makna.

Agama Dan Keberagaman

Good Job Tuhan! Semua kreasi-Mu membuat mata, rasa, jiwa, dan logikaku sangat mengagumi kesemuanya. Aku malu dengan diriku, aku malu membenci suatu tempat, aku malu melecehkan kepercayaan orang dan aku tidak akan lagi mengagungkan diri karena sebuah identitas. Perjalanan terhitung oleh speedometer dengan berbagai temuan yang memukau, aku kagum!.

Hati merasa terhormat dan paling dan paling saat menonjolkan identitas keagamaan kepada orang lain! Aku merasa yang paling!. Oh ternyata aku malu dengan agama Hindu Bali! Tahun lalu 2016 awal sekali badanku berdiri di pulau Bali, dimana mayoritas penduduknya beragama Hindu. Ya! Saya paham mereka berbeda akidah dengan ku dan Aku merasa yang terbaik dan merasa yang paling!. Setiap bola mataku melihat dengan seksama orang-orang Bali beribadah dan otakku menghitung dalam lembaran uang untuk segala sesaji yang tersedia untuk para Dewa. Aku mulai bertanya dan saling tawar-menawar di kepala maupun di dada!.

Apa yang membuatku malas untuk beribadat kepadaNya dan cinta kepadaNya? Lihat mereka orang Bali! Apa kamu tidak berfikir?!. 

Di lain kesempatan, "Yo, kok belum sholat? Padahal udah masuk waktu sholat!" Suara kawan Kristen di saat perjalanan di Gunung Guntur. Aku malu karena lupa untuk mencintaiNya dan inilah sebuah makna berteman dengan perbedaan keyakinan. Aku manusia dan dia manusia yang sama diciptakan oleh Nya. Kenapa membenci? Kenapa alergi? Dan kenapa saling mengunggulkan padahal masalah keimanan dan keyakinan tidak ada yang perlu diunggulkan. Tuhan dan individu suatu hubungan intim yang perlu ditutupi untuk sebuah percumbuan mesra dengan rasa cinta yang sempurna. Masalah Tuhan dan keyakinan adalah hal yang langsung berada ditangan orang yang mempunyai keimanan yang dia percaya. 

Saya tidaklah kompeten dalam hal agama, aku hanya ingin mencintaiNya. Mungkin Anda sekalian mempunyai pandang spiritualitas berbeda saat berkunjung ke suatu daerah ataupun suatu kejadian.

Adat Budaya

Pernah merasa akulah yang paling? Saya pernah merasakan hal tersebut dalam hal suku bangsa, berbagai faktor pendukung membuat saya merasa akulah yang paling. Terima kasih atas semua jarak yang ditempuh, aku menemukan keindahan lainnya yang menenggelamkan rasa "akulah yang paling". 

Saat melihat sebuah bangunan, tarian, dan menikmati makanan yang lezat dari berbagai daerah, Aku mulai belajar menikmati sebuah keindahan budaya lain untuk menghargai dan menghormati setiap kerasi yang tercipta dari golongan yang berbeda. Good job Tuhan! Aku bersyukur pada-Mu. Aku tidak bisa membayangkan jika diriku penuh kesinisan terhadap budaya suku lain, dan tidak bisa membayangkan dalam perbedaan itu mereka mempertahankan ke-egoisan kelompok suku bangsa. Saya pikir hidupku tidak akan tenang dan indah!.

Berbagai literatur menyebutkan bahwa peperangan antar suku bangsa karena sebuah perbedaan yang dibandingkan untuk sebuah keunggulan dalam ke-egoisan kelompok. Sangat masuk nalar dari sifat itulah kerusakan berawal. Bersyukur sekali dengan melihat dan merasakan segala budaya suku yang pernah saya kunjungi membuat merasakan keindahannya. Dan ingatlah keberadaan kita semua; semua dari Tuhan! Pantaskah menyalahkan Tuhan yang menciptakan kulit putih, negro ataupun kulit kuning Asia? Pantaskah menyalahkan suatu kaum?! Saya pikir tidak ada yang pantas kecuali membenci dari sebuah perbuatan tercela itu! Ya kita boleh membenci sebuah perbuatan tercela namun bukan membenci identitasnya!!.

Teman dan saudara

Tidak dipungkiri sebuah perjalanan menghasilkan sebuah relasi baik pertemanan, persahabatan kadang menjadi relasi persaudaraan yang begitu kuat. Manusia mahluk sosial yang saling membutuhkan tentunya dalam setiap perjalanan membutuhkan teman, pertolongan dan pembicaraan yang menjadikan sebuah keakraban. Layaknya mengetik hastag (#) yang dibuat akan memunculkan jaringan-jaringan tertentu sesuai apa yang Kita ketik (Kita sukai), dalam perjalanan saya temukan seperti itu. Sebuah relasi terjadi dengan adanya topik ataupun hal yang sama-sama disukai.

Dalam jarak yang pernah ku tempuh banyak menghasilkan persaudaraan dan persahabatan karena sebuah kesamaan hal yang disukai.

Kebuntuan untuk melanjutkan!
11/5/18

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parfum Garuda Indonesia: Parfum Yang Mempunyai Hukum

Kata Serapan Bahasa Portugis dalam Bahasa Indonesia

Jenis-Jenis Kenduri Dalam Adat Islam Jawa