Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Cara Membuat Keripik Umbi Uwi

Umbi Uwi Mentah

Umbi Uwi dikenal sebagai bahan makanan pengganti maupun bahan makanan pokok untuk masyarakat Asia Tenggara maupun kawasan Pasifik lainnya. Umbi Uwi mengandung karbohidrat tinggi jadi sangat cocok untuk pengganti nasi maupun bahan pokok karbohidrat lainnya. 

Berbagai olahan umbi uwi tercipta di Nusantara baik itu keripik, kukusan uwi, es krim uwi maupun donut uwi. Kali ini saya mengenalkan kepada Anda cara membuat keripik umbi uwi yang baik. Jangan salah kaprah membuatnya karena akan menjadi makanan yang tidak enak seperti yang saya lakukan sebelumnya sebagai uji coba.

Perhatikan Langkahnya

1. Umbi Uwi jangan diperlakukan seperti umbi racun gadung dalam pengolahannya, dalam hal ini jangan dijemur setelah dikupas dan dipotong tipis.
2. Setelah dikupas dan diiris tipis, tiriskan tapi jangan sampai kering sekali. Meniriskan irisan uwi akan mengurangi getah (lendir) yang ada. Lendir ini akan menguras minyak goreng saat pengorengan.
3. Goreng umbi uwi sampai kekuningan. Jangan sampai kecokelatan.
Baiklah, sediakan alat dan bahan sebagai berikut: pisau, umbi uwi, gosrokan keripik pisang, penyedap rasa (roico), garam, minyak goreng dan alat penggorengan.

Jangan Dijemur Seperti Foto Di Atas

Langkah-langkah

1. Kupas kulit umbi uwi dengan pisau dan bersihkan dengan air mengalir.
2. Potong bagian umbi uwi sesuai dengan selera dan dilanjutkan dengan mengosrok umbi uwi di alat gosrokan keripik pisang.
3. Tiriskan hasil gosrokan umbi dan olesi dengan penyedap rasa maupun garam.
4. Panaskan minyak goreng dan goreng umbi uwi sampai kekuningan.
5. Tiriskan dan masukan ke dalam toples.

Komentar

Unknown mengatakan…
Bagaimana cara membuat keripik umbi gemnili? Apakah sama prosesnya. Kok aku nyoba buat hasilnya digoreng pahot
Unknown mengatakan…
Keripik umbi gembili
Waluyo Ibn Dischman mengatakan…
Waduh saya belum pernah coba untuk umbi gembili, tapi nek gawe kripik dari umbi uwi pernah.

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.