Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Puji-pujian Khas Bulan Ramadan

Komunitas Jawa di kampungku mempunyai segudang tradisi yang unik dan selalu lestari baik itu tradisi agama kebudayaan maupun tradisi lainnya. Tradisi agama kebudayaan yang masih lekat adalah puji-pujian atau melantunkan syair sebelum ikomah (berlangsungnya solat). Memang setiap hari selalu ada puji-pujian ini baik subuh hari maupun siang hari saat masuk sembahyang duhur. 

Tembang syair ilahiah bukan hanya berbahasa Arab saja melainkan Bahasa Jawa, Sunda maupun Bahasa Indonesia. Pada subuh hari biasanya selalu syair berbahasa Jawa yang sangat mendayu, terlebih lagi dilantunkan oleh para jemaat orang tua. Entah kenapa subuh hari selalu saja syair berbahasa Jawa yang dilantunkan oleh para jemaat orang tua, jika didengarkan rasanya syahdu sekali.

Suasana Tarawih Di Mushola Haji Nurhasim

Ramadan, bulan istimewa diantara bulan-bulan lainnya di kalender Hijriyah, pada bulan inilah umat Islam getol-getolnya dalam beribadat. Tentu saja syair ilahiah selalu dikumandangkan sebelum sembahyang dimulai. Ada satu syair yang selalu ditembangkan hanya pada bulan Ramadan saja, selebihnya tidak pernah dikumandangkan. Aaya sendiri yang sudah lama tinggal di sini sedikit merasa heran. Setiap mushola ataupun masjid selalu bersyair khas Ramadan tersebut, syair itu dikumandangkan saat hendak sembahyang Isya bersamaan dengan sembahyang Tarawih.

Syair ilahiah ini isinya tentang pujian terhadap Kanjeng Nabi Muhammad dalam Bahasa Jawa Dan Arab, lagam yang digunakan tentunya Jawa klasik. Lagam klasik ini mempunyai power yang besar dan mengalun-alun halus layaknya sinden bernyanyi. 

Bagi saya syair ilahiah khas Ramadan tersebut memang tidak sembarangan orang yang bisa melantunkan dengan sempurna. Boleh dibilang hanya sedikit saja, sebut saja Mang Ringin, dia adalah anak dari Haji Nurhasim pemilik langgar (langgar swasta) dekat rumahku, suara khasnya dengan power luar biasa mampu membuat orang terkesima dengan syair ilahiah indah tersebut. Mang Ringin mempunyai suara maskulin yang indah bagi saya. 

Boleh dibilang mereka adalah sinden legendaris RT 1 Kubangpari, mendiang Hj Saridem  dan Hj Sayinah. Dua orang kakak beradik ini mempunyai suara khas masing-masing dan mempunyai power suara yang lepas nan khas.  Suara mendiang Hj Saridem hampir sama karakternya dengan Mang Ringin. Sementara Hj Sayinah mempunyai karakter khas cempreng nan renyah dan power kuat saat bersenandung.
Percayalah bahwa mereka bertiga merupakan the legend di RT 1. Orang pasti akan selalu ingat dengan suara khasnya.

Syair khas Ramadan

Allahuma soli
Li wa salim wa salimi ala
Sayidina wal muhamad
Mugo-mugo muwur ono
Rohmat salam ingatasè Gusti kito
Kanjeng nabi, nabi Muhammad

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...