Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

KAWERUH BASA: Pribahasa lan Saloka Jawa #11

27. Dikebo siji (ib). Wong sing dirampok (dikroyok karo senjata tajam).

28. Dikempita kaya wade dijujua kaya manuk. Didulang (disuapi) terus - terusan.

29. Dikempit kaya wade. Wong sing diasuh apik - apik.

30. Dinulang mangap. Wong dinai madang akeh (keluarga,  pelayan,  pekerja).

31.disaponana erèk, dibendhéna emung (ib). 1 nyiarna prentahan. 2 nyiarna keahlian wong lia.

32. Ditunggakaké (ib). Wong sing diabaina,  ora dipedulikna.

33. Dolanan ula mandi (ib). Sengaja meng kerjaan sing mabahayakna.

34. Drana laba (ib). Wong sabar lan tutur kata.

35. Dreman golèk momongan (ib). Wis duwe kerjaan ngoleti kerjaan sing lia maning.

36. Dudu berasé ditempuraké (ib). Melu nimbrung omongan atawa aweh saran tapi ora pas karo pembicaraan.

37. Dudu sanak dudu kadang yen mati melu kelangan (ib). Wong suami istri nek ditinggal mati dadi nglangsa.

38. Dudutan lan anculan (ib). Wong sing sepakat arep nglakokna keelekan atawa perbuatan sing ora bener pura-pura ora pada ngerti.

39. Dugang mirowang (ib). Awal ngrewangi akhiré dadhi mungsuh.

40. Dur angkara alun-alun. Penjahat mati nang alun-alun.

41. Durga amurang karta. 1 raja sing nglanggar prentahé. 2 hakim sing nglanggar perikeadilan nang pengadilan.

42. Durga anganggas kara (anganggas ukara). Wong sing nganggu pengadilan,  kurang ajar aring hakim.

43. Durga ngangsa - angsa (ib). Wong pelit.

44. Durjana amati raga (ib). Penjahat sing bertekad mati.

45. Durkara saksi (ib). Seksi pada selisih karo seksi lainné.

46. Durniti ganda rasa (ib). Ganjaran.

47. Durniti wiku manik retna adi. Wong sing pinter ora gelem ngajarana kepinteranné atawa wong sing apik ora tulus keapikané.

48. Durung bisa ngaku pecus (ib). Orang sing pura - pura pinter atawa angkuh.

49. Durung bisa sisi (ib). Wong sing dideleng ésih lugu.

50. Durung cundhuk acandhak (ib). 1 urung nangkap masalahé wis nyambung omongané. 2 urung pernah kenalan,  wis bisa akrab kaya batir suwe.

51. Durung ilang pupuk lempuyangé (ib). Wong sing dipadhakna karo bocah cilik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...