Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Asinan Rambutan Yang Hitz

Indonesia dan sebagian negara Asia Tenggara adalah rumah bagi rambutan, buah yang dinamai karena hampir semua bagian tubuhnya mempunyai bentuk seperti rambut. Maka dari itu buah ini dinamai rambutan untuk wilayah Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei lain lagi di wilayah Indochina. Namun dunia internasional menggunakan nama rambutan sebagai nama resminya.
Asinan Rambutan Siap Makan

Musim rambutan di tempat saya membuat harga buah ini sangat rendah bahkan tetangga yang mempunyai pohonnya pun membagikan secara gratis kepada tetangganya. Saking banyaknya! Karena saking banyaknya rambutan mulailah ide mengolah rambutan yakni dibuat asinan. Wah bagaimana cara membuatnya? Tenang, saya akan menjelaskan caranya kepada anda sekalian.

Alat Dan Bahan
Rambutan segar 1-2 Ikat
Cabe rawit 4-15 Biji
Gula aren/Kelapa 1-2 Biji
Jeruk purut 1-2 Biji
Garam 1-2 sendok teh
Air mineral 1-3 gelas (menyesuaikan)
Pisau
Wadah (gelas, mangkok dll)

Cara
Rambutan kupas dibagi dua dan hilangkan bijinya
Cabe rawit, gula aren/kelapa, jeruk purut iris tipis-tipis
Tuangkan air mineral, daging rambutan, irisan jeruk purut, gula aren/kelapa, garam  ke wadah yang sudah disediakan.
Aduk sampai rata, cicipi untuk memperoleh rasa yang sesuai selera.
Diamkan di kulkas sejam minimal, lebih bagus 24 jam.

Selamat Mencoba. Salam ......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.