Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

1441: Hari Ke-empat

"Manusia hidup dengan keterlemparan" demikian dauh Wali Heiddeger. Keterlemparan dalam bahasa mudahnya adalah kesunyatan. Keterlemparan-keterlemparan yang dilalah ini merupakan suatu hal yang luar biasa entah dirunut dari segi teologi, filsafat maupun dari segi lainnya. Jika kita terlempar pasa suatu keadaan tertentu, tentunya sebagai manusia mempunyai refleks yang baik dalam menghadapi keterlemparan tersebut.

Pagi, Siang dan Sore
"Ada orang yang berkata bahwa pengalaman dan penderitaan hidup itu sangat penting di dalam menuju bahagia. Tetapi kita berpendapat lain. Kalau hanya dengan pengalaman saja,tentu umur akan habis sebab pengalaman itu kian banyak berbeda, pengalaman kemarin tidak ada lagi sekarang, begitu pun nanti. Usia pun habislah sebelum pengalaman cukup, rahmat dan ketenteraman tentu tidak akan terdapat, sehingga bahagia hanya jadi kenang-kenangan saja." Petikan dari buku Tasawuf Modern - Hamka. Jadi bukan sebuah pengalaman yang lama yang membawa manusia menuju kebahagiaan. Akan tetapi sebuah kesiapan dan tekad manusia mengejar kebahagiaan yang esensial. Kebahagiaan esensial ini tidak lah jauh dengan kebahagiaan yang bersifat religius. 

Hari ini tidak banyak kegiatan membaca, hanya membaca Tasauf Modern saja, untuk Perjanjian Baru Injil Matius ditinggalkan sejenak. Banyak pekerjaan rumah yang mesti dibereksan terutama ruang lemari yang berantakan, surat-surat dari luar negeri yang tidak teriorganisir dan masih banyak lagi barang yang mesti dirapikan kembali. Kegiatan beres-beres ini tidak berhenti sampai sore hari, betapa lemasnya badan ini.

Surat-surat sudah beres dengan file yang lebih baik dan dirunut berdasarkan besaran amplop, barang koleksi tertata rapi, dokumen akademik juga sudah rapi. Kini beberapa koleksi kartu QSL dan buletin dari radio masih menumpuk di meja kamar. Gunung kertas! Yah maklum saja sejak tahun 2005 saya aktif mendapat buletin dari stasiun radio. 

Karena kurang kerjaan semua buletin dan QSL ingin diunggah di blog ini, semoga ada yang membaca sebagai pengetahuan ataupun nostalgia. Foto demi foto terunggah dalam #RadioSW dan #GaleriFoto hari ini baru empat yang terunggah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...