Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Apa Itu Songkran?

Hal yang penting saat gelaran Songkran
Songkran adalah festival Tahun Baru Thailand tradisional sejak dahulu kala. Adalah merangkul niat baik, cinta, kasih sayang, dan rasa terima kasih, menggunakan air sebagai alat ekspresi.  Kata Songkran berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bergerak atau melangkah maju.  Hari pertama Songkran terjadi ketika matahari bergerak dari bintang Pisces ke Aries, yang menandai Hari Tahun Baru menurut kalender tata surya Brahmana.  Festival Songkran jatuh pada tanggal 13, 14, dan 15 April setiap tahun.  Hari pertama dikenal sebagai Maha Songkran atau Grand Songkran. Pemerintah Thailand telah mendeklarasikan festival Songkran sebagai hari libur nasional yang diperpanjang untuk memungkinkan orang-orang kembali ke kota asal mereka untuk reuni keluarga (mudik), mengadakan pernikahan dan bersatu kembali dengan orang lain di kampungnya. Tanggal 13 April juga dinyatakan sebagai Hari Senior atau Lansia oleh pemerintah.  Acara ini menandai apresiasi untuk populasi senior atas kontribusi mereka selama bertahun-tahun bagi keluarga dan negara.  Tanggal 14 April ditetapkan sebagai Hari Keluarga untuk merayakan cinta dan kebersamaan keluarga.

Siapa Nong Songkran?
Di masa lalu, ketika komunikasi massa agak terbatas, untuk membantu orang buta huruf belajar nama-nama hari pada kalender Songkran, sebuah cerita tentang asal-usul Nang Songkran dibuat.  Dikatakan bahwa Tao Kabilaprom memiliki tujuh anak perempuan, yang secara kolektif dikenal sebagai Nang Songkran.  Dalam permainan judi yang kalah dari Thammakumarn, Tao Kabilaprom harus membayar utangnya dengan kepalanya.  Namun, kepalanya tidak boleh bersentuhan dengan tanah, udara atau air karena itu akan menyebabkan bencana.  Untuk menjaga perdamaian di bumi, kepalanya diletakkan di atas nampan yang kemudian dibawa ke Gunung Krailad.  Setiap tahun, salah satu putri akan membawa kepala ke kota untuk prosesi.  Setiap anak perempuan memiliki keunikan dalam caranya sendiri dan diidentifikasi oleh ornamennya, pilihan senjata dan alat transportasi yang dilambangkan oleh binatang.  Karena ada tujuh anak perempuan, mereka juga bertindak sebagai peri (dewi) untuk setiap hari dalam seminggu.  Nama tujuh Nang Songkran untuk setiap hari adalah:

Garuda hupuns Senin
Minggu (Ahad) dilambangkan sebagai burung Garuda (Tung-sa).
Senin dilambangkan sebagai macan (Ko-ra-ka)
Selasa dilambangkan sebagai babi (Rak-so).
Rabu dilambangkan sebagai keledai (Mon-ta).
Kamis dilambangkan sebagai gajah (Kiri-nee).
Jumat dilambangkan sebagai kerbau (Kimi-ta).
Saturday dilambangkan sebagai burung merak (Maho-torn).

Nang Songkran tidak hanya mewakili  hari dalam seminggu, tetapi saat itu orang sering mengaitkan karakteristiknya dengan jenis cuaca yang dapat mereka harapkan untuk tahun itu juga.

Pentingnya Festival Songkran
Songkran dianggap sebagai salah satu tradisi paling penting di Thailand karena mencakup tiga nilai utama dalam kehidupan Thailand yaitu:
1. Nilai keluarga: Songkran adalah waktu ketika anggota keluarga berkumpul untuk menunjukkan penghargaan, cinta dan  menghormati serta membuat prestasi dan memberi penghormatan kepada leluhur mereka.
2. Nilai masyarakat: Melalui partisipasi aktif dan interaksi satu sama lain, Songkran menyatukan orang-orang di komunitas untuk meningkatkan niat baik dan persatuan dalam masyarakat.
3. Nilai agama: Membuat kebajikan dengan menawarkan makanan kepada para bhikkhu, pergi ke kuil-kuil dan mendengarkan khotbah-khotbah Buddhis adalah kegiatan yang menguntungkan yang dilakukan selama Songkran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...