Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

1441: Hari Ke-enam

"Persembahan-persembahan dan doa-doa para dewa bagus sekali-tetapi apakah hanya itu? Apakah persembahan-persembahan memberikan masa depan yang bahagia? Dan bagaimana tentang para dewa? Apa betul Prajapati yang menciptakan dunia? Bukankah Atman, Dia, satu-satunya, yang tunggal? Bukankah para dewa juga ciptaan seperti aku dan kau, terikat kepada waktu, bersifat fana? Apakah dengan demikian sudah baik, sudah benar, apakah memang bermakna dan menjadi tugas paling utama, untuk memberikan persembahan kepada para dewa? Untuk siapa lagi perlu dilakukan persembahan, siapa lagi yang harus dipuja selain Dia, yang satu, Atman? Dan di mana Atman bisa ditemukan, di mana Dia bermukim, di mana jantung abadinya berdetak, di mana lagi kalau bukan di dalam diri sendiri, di bagian paling dalam, bagian yang tak bisa dihancurkan, yang dipunyai semua orang dalam diri masing-masing? Tetapi di mana, di manakah diri ini, bagian paling dalam, bagian paling utama? Bukan daging dan tulang, bukan pikiran ataupun kesadaran, begitu bunyi ajaran para bijak.Jadi, di manakah itu? Untuk mencapai tempat ini, diri sejati, diri sendiri, Atman, adakah jalan lain yang pantas dicari?". Novel Sidharta - Hermann Hasse.

Pertanyaan-pertanyaan sakral yang selalu muncul dari para perindu Tuhannya. Kadang terpikir apa yang dicari di dunia ini? Dan kenapa mesti terlahir. Pertanyaan itu semestinya dijawab dengan setiap langkah kita dalam dunia, langkah-langkah manusia yang bersifat ilahiah. Manusia memang tak selalu puas dengan segala jawaban tentang pertanyaan absurd, Semua dijajal demi sebuah jawaban. Langkah-langkah kecil untukku demi terjawabnya sebuah pertanyaan.

Pagi
Cerah, tak seperti hari sebelumnya. Kini kegiatan cukup banyak mulai membersihkan rumah, pakaian yang mulai kena jamur gegara terlalu lama tidak dipakai. Ada satu pelajaran baik dari pakaian yang kena jamur, membedah isi lemari yang penuh pakaian dan dijemur guna menghilangkan jamur. Dihitung satu persatu ternyata banyak sekali pakaian yang pernah dibeli, perlu setengah bulan untuk mendapatkan giliran satu pakaian untuk dipakai di badan. Ini pertanda pakaian terlalu banyak dibeli, mestiné sudah tidak bernafsu lagi untuk membeli pakaian kembali.

Rakus! Nafsu yang bergairah untuk sebuah pakaian yang fana, padahal lelaki cukup lima setel pakaian. Lima setel ini bisa digunakan dengan berbagai acara dan tidak perlu berlebihan. Hanya nafsu yang mampu berjalan liar untuk menghamburkan semua. Dari peristiwa ini saya sadar betapa liarnya nafsuku untuk membeli pakaian, dari ini janji untuk tidak beli kembali.

Siang & Sore
PR membaca Injil Matius kembali mangkrak, namun terganti oleh novel Sidharta yang menarik. Pembacaan kali ini memang tidak terlalu serius karena cuaca panas dan kegiatan jemur baju begitu banyak. Jadwal membaca ayat-ayat Alquran mangkrak di post Ashar, jadi Ashar tanpa baca Alquran. Menyedihkan. 

Kadang keinginan yang sudah atau setengah tercapai grafik semangat memudar dan merasa leha-leha. Begitulah keadaanku sekarang yang merasa leha-leha selepas juz 15 itu. Nafsuku merasa menang akan hal ini. Aku butuh bujuk malaikat untuk segara bergabung dengannya yang mempunyai tabiat robot yang selalu berbuat baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...