Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Upacara Pemberian Nama Bayi Dalam Adat Jawa

Setiap peristiwa penting selalu ada perayaan rasa bersyukur yang besar kepada Tuhan dengan segala cara sesuai dengan suku adat budaya yang dibawa dan juga agama apa yang dianut. Peristiwa penting yang selalu dirayakan atau menyelenggarakan upacara besar yakni di setiap lingkaran kehidupan: kelahiran, pernikahan, dan kematian. Dari ketiga rangkaian itu selalu ada sebuah upacara besar. Kali ini saya ikut dalam upacara pemberian nama bayi di rumah sepupu di Kesugihan, Cilacap - Jawa Tengah. Memang saya seorang Jawa, namun perlu diketahui setiap daerah beradat budaya Jawa tidaklah selalu sama dalam adat ataupun perayaan dengan berbalut keagamaan ini.

Jalan Upacara
Pertama-tama undangan masuk ke ruangan tamu atau ruangan yang disediakan, setelah berkumpul semua undangan maka upacara dimulai. Suguhan kudapan berangsur-angsur keluar menjamu para tetamu yang datang, sekitar lima menit pembukaan atau mukadimah oleh kyai ataupun sesepuh. Mukadimah biasanya tidak terlalu panjang cukup sampai tujuh menitan, dilanjutkan dengan taluan rebana. Pada mukadimah disebutkan nama pilihan sebagai nama bayi tersebut.

Taluan rebana tanda dimulainya acara pemberian nama bayi, rebana-rebana didendangkan dengan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Nyanyian riwayat kenabian dinyanyikan oleh profesional yang telah diundang sebelumnya, biasanya berasal dari pesantren terdekat. Setelah nyanyian usai dilanjutkan dengan nyanyian dari kitab Al Barzanji, setelah itu barulah taluan rebana kembali bergema untuk menyambut kedatangan si jabang bayi.

Jabang bayi digendong dan dibawa keliling ke seluruh penjuru ruangan yang ada tamu undangan, untuk diperkenalkan kepada setiap orang. Satu rombongan pembawa bayi terdiri dari penggendong, pembawa payung dan pembawa gunting dan mangkok air untuk pencukuran. Setelah berkeliling sekitar tiga kali dengan lantunan shalawat nabi, para rombongan pembawa bayi berhenti di tengah-tengah tamu undangan. Di situlah bayi mulai dicukur oleh para tamu undangan yang dianggap menjadi tokoh yang sukses, religius, saudara dekat dan yang lainnya. Biasanya tidak lebih dari sepuluh orang yang akan mencukur, alat cukur biasanya terdiri dari gunting, cincin emas ataupun pencukur kumis atau jenggot. Setelah mencukur beberapa helai rambut si bajang bayi, sang pencukur mendoakan bayi tersebut agar masa depannya lebih baik.

Semua pencukur sudah beres dengan tugasnya, rombongan pembawa bayi kembali berkeliling tiga kali dengan dendangan rebana dan salawat nabi. Bayi sudah masuk kamar bersama ibunya tinggal doa yang diucapkan oleh sesepuh hingga selesai. Semua upacara selesai, tinggal makan kudapan dengan santai dan membagikan berkat berupa satu paket makanan baik makanan siap makan atau mentahan. Musik rebana masih bertalu hingga tamu undangan bubar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.