Langsung ke konten utama

Hutan Lindung Gunung Gegerbentang Pamarican dan Refleksi Diri

Lafanda - Arsyad Siddik

Merupakan dongeng anak-anak yang penuh pesan moral. Diperankan oleh Mbawa sebagai tokoh utama, seorang anak yang nakal nang mujur. Bagiku dogeng ini membawa keterlemparan pada masa sekolah MI dulu, banyak buku cerita yang indah. Buku cerita yang ilustrasi sederhana yang bisa dibayangkan dengan mudah, terlebih saya tinggal dan besar di desa. Buku terdiri dari 12 judul bermula dari peristiwa Hampir Tenggelam-nya tokoh utama, Mbawa dan diakhiri dengan kesuksesan usaha Mbawa pada judul Rencana Tahun Depan. Satu yang sangat suka daur buku ini adalah ilustrasi yang sangat indah.


Kisahnya sederhana, namun penuh dengan pesan moral. Diceritakan bahwa ada anak seorang petani bernama Mbawa yang keras kepala, namun dia selalu beruntung saat kemalangan datang. Keras kepala pada diri Mbawa ternyata luluh oleh ajakan ayahnya untuk mengolah tanah bersama, mungkin sebagai pengalihan kenakalan anak. Dengan kegiatan bertani ini Mbawa menjadi anak yang patuh pada orang tuanya, hingga akhirnya tidak ada kenakalan pada dirinya. 

Usaha bertani tebu yang dijalankan oleh Mbawa dan orangtuanya berkembang pesat hingga terkenal seantero kecamatan. Orang-orang datang untuk membeli manisan tebunya, hingga jualan manisan laris. Berkat ketekunan Mbawa dan orangtuanya bisa membeli beberapa ekor kerbau dan kebun yang akan digunakan sebagai lahan pertanian tebu.

Ada yang rancu di latar belakang cerita, dimana pada kata pengantar disebutkan lokasi berada di ujung timur Flores, namun selanjutnya cerita sedari awal hingga akhir berada di Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, NTB. "LAFANDA adalah nama sebuah tempat di daerah Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Flores bagian timur". Kesalahan ini memang bukan dari penulis, melainkan dari Balai Pustaka yang memberikan kata pengantar yang salah. Disayangkan!.

Yang membuat sedikit kecewa adalah banyaknya penulisan yang salah huruf 'l' jadi 'i', bukan hanya itu saja kata-kata lainnya juga salah ketik. Kesalahan ini akan sangat berarti jika terjadi pada kata di luar bahasa Indonesia yang para pembaca tidak tahu artinya. Pada cerita ini tokoh utama adalah seorang anak-anak yang entah umurnya berapa, namun sudah bisa bekerja di ladang dan tanpa ada kegiatan sekolah. Kegiatan belajar hanya pada ngaji Alquran saja. Di sini saya kurang bisa berimajinasi umur berapa anak-anak bisa bertani dengan semangat seperti itu. 

Buku cerita ini sangat cocok untuk para remaja awal dan anak-anak untuk mendapatkan nilai moral yang baik. Tebal halaman tidak memberatkan pembaca anak karena hanya berisi 80 halaman saja. Bahasa yang digunakan juga sangat sederhana dan mudah dimengerti. Untuk orang di luar Bima mungkin akan kesulitan dalam membaca nama-nama tokoh dan lokasi khas Bima seperti Mbawa, Ompu, Temba Nae, dan yang lainnya.

Buku ini adalah milik Perpustakaan Nasional yang tidak dijual belikan untuk khalayak umum. Terdapat undang-undang tersendiri untuk mengatur penerbitan buku ini, saya sendiri dapat buku ini dari sesambungan penyimpanan udara dari seorang kawan.

Judul: Lafanda
Penulis: Arsyad Siddik
Cetakan: Pertama, 1980
Penerbit: Balai Pustaka - Perpustakaan Nasional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Menegang dan Mengeras Oleh Nyai Gowok

Ah...sialan! Padahal aku sudah kenal buku ini sejak Jakarta Islamic Book Fair tahun 2014 lalu! Menyesal-menyesal gak beli saat itu, kupikir buku itu akan sehambar novel-novel dijual murah. Ternyata aku salah, kenapa mesti sekarang untuk meneggang dan mengeras bersama Nyai Gowok . Dari cover buku saya sedikit kenal dengan buku tersebut, bang terpampang di Gramedia , Gunung Agung , lapak buku di Blok M dan masih banyak tempat lainnya termasuk di Jakarta Islamic Book Fair. Kala itu aku lebih memilih Juragan Teh milik Hella S Hasse dan beberapa buku agama, yah begitulah segala sesuatu memerlukan waktu yang tepat agar maknyus dengan enak. Judul Nyai Gowok dan segala isinya saya peroleh dari podcast favorit ( Kepo Buku ) dengan pembawa acara Bang Rame , Steven dan Mas Toto . Dari podcast mereka saya menjadi tahu Nyai Gowok dan isi alur cerita yang membuat beberapa organ aktif menjadi keras dan tegang, ah begitulah Nyi Gowok. Jujur saja ini novel kamasutra pertama yang saya baca, sebelumn...