Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Wayang Kila (Kidung Lakbok)

Alhamdulillah dadhi saksi peluncuran wayang kila (Kidung Lakbok)  tanggal 15 Nopember 2015. Ang Uyo apa sih sing jenengané Wayang Kila?  

Wayang Kila - Lakbok - Ciamis
Wayang kila gue wayang khas kang kecamatan Lakbok - kabupaten Ciamis Jawa Barat. Kila gue maksudé kidung lakbok ngerti mbok artinè kidung?  Kidung gue tembangan. Wayang Kila beda karo wayang - wayang umumé sing wis terkenal kaya wayang kulit,  wayang golek,  wayang wahyu lan wayang sing umum liané. Wayang kila gue digawe kang damen (jerami). Nang wayang kila ora ana gendhinganè kur ana tabuhan sing digawe kang pring (bambu). Jan sederhana mbanget alat musikè tapi maen banget nek ditabuih. 

Ora akeh lakon - lakon nang wayang kila gie kur kira - kira ana 5-7 lakon,  sing paling gedhe ya gue lakon bagong (babi) karo tikus. Wayang kila gie nyeritakna masa kejayaan lan gonjang ganjing wilayah kerajaan Galuh khususé wilayah Banjar karo Lakbok. Basa Sunda sing dadi bahasa utamané go pagelaran. Dalang wayang kila njagong nang tengah-tengah sakabeh pemain musikè. 

Kerna Lakbok akeh - akehé sawah dadhiné wayang kila digawe karo damen lan ceritané uga tentang pertanian atawa ana hubungané karo pesawahan. Contohé bae kaya ana hama bagong karo hama tikus.

Janjanéh akeh mbanget sing arep di ceritakna kur bahan cerita wis enthek soalé pas lagi nonton wayang kila ora wawancara langsung aring dalang. Ya semoga wayang kila dadi terkenal nang indonesia lan negara liané. Bangga juga wilayah Ciamis nduwéni budaya sing luar biasa.

Komentar

swdmyid@gmail.com mengatakan…
apik mas,, njenengan asline ndi ? hee
Waluyo Ibn Dischman mengatakan…
Aku asli kang Kubangpari kecamatan Pamarican mas suwar. Sampeyan kang ndi mas?

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.