Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Buletin Ranesi 25 Oktober - 28 Maret 2010

Kali ini Poso menjadi kota lokasi foto di halaman muka buletin Ranesi untuk periode 25 Oktober 2009 sampai 28 Maret 2010. Foto tersebut seorang lelaki paruh baya menggunakan batik bunga raya khas Malaysia sedang menelpon dengan latar belakang parabola.

Halaman Muka
Sejak adanya website kini RNW khususnya Ranesi lebih produktif dalam memproduksi sebuah video. Artikel Menyapa Lewat Video menjadi artikel pertama di halaman ke dua buletin terbitan kali ini. Memang melihat video akan lebih nyata daripada hanya mendengarkan sebuah informasi. Dengan konten video para pendengar yang sedang mengakses website Ranesi akan lebih mentahui apa sebenarnya yang terjadi. Dalam artikel tersebut ada foto menarik yakni seorang om bule sedang membuat video di atas bajaj di Jakarta.

Menyapa Dengan Video
Mengikuti pendahulunya buletin dengan halaman 3-5 terdapat peta dunia dengan zona waktu Indonesia dan keterangan frekuensi Ranesi di gelombang pendek, tidak ketinggalan juga terdapat informasi jangkauan satelit.

Peta Satelit
Halaman 6-7 tanpa hiasan foto namun banyak artikel yang dicetak diantaranya tentang temu mitra di Nusa Dua, Bali. Selain itu Ranesi membuat blog dengan alamat pengalamanku.nl yang berisikan pengalaman tinggal dan belajar di Belanda. Setiap orang bisa mengirimkan artikel ataupun videonya ke blog tersebut. Acara Tupen Van Amsterdam adalah acara yang dibuat Ranesi dan mitranya di Jakarta dalam siaran dialog Interaktif.

Halaman tengah
Halaman terakhir lagi - lagi Ranesi mengingatkan kepada para pendengar untuk tidak hanya mendengarkan Ranesi di radio sw saja namun juga menonton liputannya di websitenya dan kanal YouTube yang telah dibuat.
Ranesi 24 jam sehari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...