Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Learning Javanese: Basic Grammar

Like English, Javanese noun have ni gender, but unlike English, Javanese language doesn't have any articles (the, a, an). Verb are same for present, past and future time. Tenses are not indicated by the change of form. When saying "I bought a car yesterday",  you simply say "Enyong tuku mobil wingi".

Adjectives
1. Descriptive adjectives follow the noun.
Example: Mobil abang (The red car), Klambi kaos putih (the white tshirt).

2. Demonstrative adjectives gie (this/these) and gue or kae (that/those) come at the end of a phrase and don't change to indicate the plural form or sentence.
Example: Mobil kae gedhe (that car is a big).

3. Possessive adjectives come after the noun the modify or the thing possessed.
Example: Anakku (my child)

Pronoun
Subject pronoun and objects pronoun are mostly the same in Javanese language.
I = Enyong, Aku, Kulo
You = Koe, Sampeyan
He = Kae
She = Kae
We = Sakabehan
They = Kae Sakabehan

Verbs
1. The verb, to be, doesn't have in javanese language equivalent.  It is, therefore, omitted.
Example: Kae Perawan Amerika (she is American teenager),  Gie surat go Koe (This letter for you).

2. Verbs don't change their forms to indicate tense and the person taking action.
Example: Kae bocah lunga meng Australia (He is going to Australia).

3. Completeness of an action can be indicate by the word Uwis or Wis. Urung is used to indicate incompleteness.
Example: Dischman wis tangi (Dischman was wake up),  Rony urung adus (Rony doesn't take a bath).

Esih indicate that an action is (was) still occurring. Example: Mamaku esih masak sega (My mom still cooking rice).

Agi indicate that it is (was) in process of occurring. Example: Bapakku agi lunga meng pasar (my dad was/is going to market).

4. Present, past and future tenses are often indicated by words such as Siki (now), Wingi (yesterday),  Ngesuk (tomorrow).

Negative
1. Udhu, dudu is used when object or predicate is a noun.
Example: Enyong udhu guru (I am not a teacher)

2. Ora is used before adjectives, verbs and prepositions.
Example: Enyong ora turu (I am not sleep).

3. Aja and Ora ulih is used to forbid, or to express an order.
Example: Aja dipangan (don't eat),  Ora Ulih mlebu (don't enter).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.