Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Sampai Jumpa Sang Bima

Malam terakhir sebelum berlayar ke pulau selanjutnya, kuberikan kesempatan pada jiwa ini untuk bercumbu kembali dengan suasana malam Kota Bima. Sepeda pinjaman yang sangat bermanfaat menemani saya malam ini untuk kembali bercumbu rayu.Percumbuan malam ini tidak terlalu jauh hanya sekitar kawasan istana dan jalan gajah mada. Ingin sekali menikmati kenikmatan surgawi yang dipersembahkan oleh kuliner Bima. Singkong goreng khas Bima saya cari ke sudut - sudut kota namun tak ada satupun yang masih buka. Malang memang nasib saya untuk menikmatinya. 

Pulau Komodo dilihat dari kapal ferry
Malam terakhir adalah suatu yang istimewa bagi saya dimanapun berada termasuk di Bali yang paling berkesan dengan sahabat saya Rosi. Malam terakhir adalah suatu kenangan yang mendalam dan bahan perenungan selama perjalanan di kota orang. Persiapan keberangkatan ke pulau Flores  sudah saya persiapkan sejak semalam. Pakaian sudah saya rapihkan termasuk izin pamit pada keluarga perjalanan saya di Bima. Rasa haru tidak muncul dalam episod kali ini entah mengapa apakah karena pembawaan yang selalu bersemangat ataukah faktor lainnya. Jiwa memang tidak semestinya merasakan satu perasaan saja, tapi selalu berganti. 

Waktu mengejar begitu cepat menyebabkan mas Fahru menaikkan kecepatan motornya untuk melaju ke pelabuhan Sape. Tuah tak dapat diraih dengan mudah dan sial tidak dapat dihindari dengan mudah juga. Ban belakang motor kembali pecah. Injury time tidak terjadi karena saat memasuki pelabuhan masih ada waktu sekitar 2 jam. Alhamdulillah masih dikasih kesempatan berlayar dengan tepat waktu. 

Swafoto dengan teman baru dari Spanyol
Kapal ferry ukuran kecil menjadi modal transportasi utama penghubung Bima (pulau Sumbawa)  dengan Labuan Bajo (pulau Flores). Harga yang merakyat bisa dinikmati di pelabuhan ini cukup membayar Rp 55.000 saja Anda bisa mencapai Labuan Bajo dengan waktu tempuh sekitar 5 jam lebih. Sekedar informasi saja tiket yang saya beli mengalami penurunan sebesar Rp 4000. Mengusir rasa jenuh di laut saya berinteraksi dengan masyarakat lokal yang ramah selain itu tidak saya buang kesempatan untuk berinteraksi dengan orang Spanyol yang sedang berlibur. Sungguh interaksi sosial membuat kejenuhan hilang sekelip mata. 

Labuan Bajo,  19 Oktober 2016
16: 34 WITA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...