Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Cimplung: Kuliner Camilan Sang Penyadap Gula

Cimplung Dari Bahan Singkong

Panganan ini mengingatkanku pada masa kecil di mana kampung halaman masih banyak penyadap lahang/badeg dari pohon kelapa. Orang Jawa menyebutnya Cumplung, mungkin berasal dari kata tiruan bunyi plung tanda suatu benda masuk atau tercebur ke dalam air. Ada benarnya juga nama cimplung tersebut karena saat kita memasukan bahan cimplung harus diceburkan dulu ke bejana besar tempat pemrosesan gula kelapa.

Cimplung sendiri rasanya sangat manis dengan tekstur lembut dan empuk. Rasa manis cimplung berasal dari sari badeg nira yang menempel sebagai air penggodok bahan cimplung. Bahan cimplung biasanya dari berbagai bahan misalnya kelapa sedikit muda (kelapa urab), singkong, kulit singkong, pisang, ubi, ataupun talas, terkadang orang juga menjadikan buah sukun sebagai cimplung. Ya sejatinya cimplung adalah berbagai bahan makanan yang dimasak di dalam air nira pada pemrosesan gula kelapa ataupun gula aren (enau). 

Cara memasak atau membuat cimplung tidaklah sulit, bahan tinggal dibersihkan atau dibuang kulitnya atau bahkan dengan kulitnya (tergantung bahan), masukan bahan ke dalam kuali besar tempat pembuatan. Masukan bahan saat sudah mendidih atau menjelang air badeg menjadi sebuah gumpalan lembek gula. Untuk bahan yang agak keras (singkong) dan perlu waktu lama sebaiknya dimasukan atau dimasak saat mendidih, sementara bahan yang cukup lunak (kelapa, pisang etc) bisa saat gumpalan badeg akan menjadi gula. Pemasakan juga tergantung selera, kadang ada orang yang tidak suka dengan cairan badeg maupun tidak suka dengan gula yang hampir mengeras. Semua tergantung selera!

Setelah dirasa cukup matang, cimplung diangkat dengan menggunakan alat masak dan tiriskan, tunggu sampai dingin maupun hangat. Saat sudah terlalu dingin rasa cimplung tidak lagi enak, waktu terbaik saat makan cimplung adalah saat bersuhu hangat kuku. 

Cimplung Yang Dibuat Dari Air Badeg Kelapa

Badeg sari kelapa menimbulkan cita rasa yang berbeda daripada badeg dari pohon enau atau pohon aren, pada umumnya orang lebih menyukai cimplung yang dimasak dalam air sari aren.

Tidak dianjurkan untuk penderita kencing manis (Diabetes Mellitus)! Bahaya!.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.