Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Mie Ongklok Teman Setia Saat Dingin

Kuah Kanji Mie Ongklok

Asik makan lagi! Makanan yang beda dari biasanya sangat membuat saya tertarik mencoba terlebih yang aneh-aneh. Dalam kesempatan kali ini, saya mencicipi Mie Ongklok khas Dieng, mumpung ada di Dieng harus mencicipi kuliner khas kota ini, disayangkan jika ke Dieng tanpa makan Mie Ongklok. 

Merupakan makanan khas daerah Wonosobo dan wilayah sekitarnya, Mie Ongklok tercipta dari beberapa bahan yang bersumber dari bahan yang tersedia di Wonosobo khususnya kol, kucai dan kuah kanji. Seperti saudaranya Mie Ayam, Bakmi dan Mie lainnya, mie ini hanya berbeda dari segi bahan campurannya seperti kuah kanji, irisan kol, tahu, pecai dan lauk lainnya seperti sate. Beberapa jenis Mie Ongklok lainnya mempunyai bumbu berbeda seperti bumbu kacang, ebi, gula jawa dan rempah-rempah lainnya. 

Kenapa disebut Mie Ongklok? Karena Mie ini dimasak dalam ongklok. Ongklok sendiri nama wadah tempat masak mie yang terbuat dari bambu, bentuknya mirip gayung kecil. Oleh karena mie tersebut dimasak dengan ongklok maka disebut Mie Ongklok.

Sajian Berselera, Mie Ongklok

Mie ongklok disajikan dengan beberapa lauk misalnya kerupuk, sate, tempe, dan lauk lainnya. Tekstur mie yang kenyal dan kuah dari kanji membuat makanan ini sangat empuk dimakan. Dalam keadaan hangat atau panas sangat dianjurkan karena kenikmatan muncul saat hangat atau panas. Wonosobo dan Dieng merupakan tempat yang cocok untuk makan Mie ongklok di mana udara di kedua tempat tersebut mempunyai hawa dingin. Harga satu porsi Mie Ongklok tanpa tambahan lauk lainnya berkisar Rp 10.000. 

Perlu diketahui bahwa mie ongklok yang saya makan saat itu tidak ada irisan daging melainkan hanya irisan daun kol, pecai dan tahu. Mungkin ini jenis Mie Ongklok yang lainnya yang patut dicoba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.