Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Salah Investasi

Beberapa kali gagal investasi di peternakan kambing yang saya percayakan ke salah satu anggota besar keluarga. Pertama sekali saya menginvestasikan beberapa juta untuk pembelian kambing hingga bertahun-tahun tidak ada kambing yang terbeli dan saya tarik kembali dana itu.

Selang beberapa tahun, saya tertarik kembali untuk mengeluarkan dana saya untuk peternakan kambing. Beberapa juta keluar dari mesin ATM untuk pendanaan investasi yang saya pikir cukup bagus. Dua kambing jawa telah saya beli di pasar Pamarican. Entah salah urus ataupun hal lainnya hingga kedua kambing itu penuh dengan jamur. Kambing terlihat kumal penuh jamur dan kurus. Prihatin!

Solusi untuk kedua kambing itu adalah dijual. Asam rasanya karena gagal dalam hal ini terlebih harga jual yang sangat hancur dari 3,5 juta dua ekor menjadi 600.000 saja. Saya telan dengan tabah dan tetap optimis.

Kembali dengan kambing kembali dan berganti dengan kambing jenis Garut. Sepertinya berjalan lancar tapi hari ini saya merasa sakit hati dengan tidak adanya rumput untuk kedua kambing tersebut. Sedih karena kambing tidak makan. Sama sekali tidak ada makanan untuk kambing!!

Tersadar dengan kasus hari ini, bahwa saya salah memilih investasi yang tepat.

Saya di ujung senja dengan kambing kelaparan, 1 April 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.