Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Terbang Untuk Kembali

Sedari kecil, buku cerita banyak menceritakan sebuah fable tentang kebaikan ataupun kejahatan sang burung bangau yang sangat asik dibaca maupun didengarkan, cerita fable untuk anak-anak ini tak terlewatkan dengan ilustrasi yang sangat indah. Burung bangau, ya burung dengan leher panjang dan kaki panjang atau pendek dengan berbagai warna pada bulunya. Dari fable tersebut saya dan anak-anak lainnya mencintai burung bangau. Sebutan bangau waktu itu tidak terkenal, Kami anak-anak selalu menyebutnya manuk blekok atau manuk kuntul, kedua jenis burung tersebut memang susah gampang untuk mebedakannya. 

Sewaktu saya kecil, kedua jenis burung tersebut selalu berkeliaran di sawah belakang rumah untuk mencari penghidupan. Atraksi indah yang saya selalu ingat adalah dimana mereka terbang beriringan, sangat indah. Kehidupan saya cukup terpengaruh banyak oleh mereka. 

Populasi mereka turun saat tahun 2009, jarang dan bahkan tidak ada kuntul maupun blekok yang singgah mencari makan di sawah belakang rumah saya. Betapa lamanya mereka tidak datang di sawah belakang rumah, tiba-tiba hari kemarin (29/4/18) sekawanan kuntul putih hingga dan mencari penghidupan di sawah belakang rumah! Ajaib, suatu anugerah Tuhan, semoga mereka betah dan keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Beberapa potret mereka saya abadikan.


Kawanan Kuntul Mencari Penghidupan


Beberapa Kuntul Terpisah Dengan Kelompoknya


Gangguan Dari Petani Terkadang Mereka Harus Mengepakan Sayap Untuk Menghindar




Tampak Seperti Jinak Tetapi Sesungguhnya Liar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.