Reuni Di Banyumas

Swafoto di warung Yudha (Yudha - Asegaf - Saya)

Tahu perasaan saat jumpa dengan teman?!
Itulah perasaan yang mungkin semua orang rasakan jika lama tidak bertemu. Dalam kesempatan perjalanan ke Dieng, Wonosobo saya menyempatkan diri untuk bertemu teman yang dulu pernah menolong dan menjadi teman setia saat plesiran ke Curug Tujuh di Baturaden, Purwokerto. Yudha dan Asegaf, dua orang asli Purwokerto yang sangat baik hati. Saya sendiri sudah bertemu dengan Asegaf dua kali, terakhir pada Desember 2017. Sementara dengan Yudha baru dua kali. 

Pagi jumat yang berkabut membangunkan ragaku terlalu siang, lelah dengan perjalanan Pamarican - Kalikudi membuat badan terasa nyeri dan lemas terlebih lagi tiga hari yang lalu sebagian cairan tubuh 'ditransfer' jadi kondisi badan cukup lemah. Wegah rasanya untuk bergerak dari kasur terlebih udara cukup dingin. Dari belakang rumah Bibi Keri berisik dengan semua peralatan masakanya dan terdengar beberapa kali teriakan kepada pedagang yang lewat untuk membeli jamuan pagi untukku. 

Eks Kantor Keresidenan Banyumas

Mata lengket oleh kotoran mata yang masih menempel, sapuan tangan menghilangkan kotoran dalam sekali usap. "Kopinè diinum sik yo!" Sahut Bibi Keri dari dapur. Sesekali aku timpali untuk menenangkannya. Satu dua suap tempe mendoan masuk ke liang mulut. Rasanya enak juga ya! lahap terus dan kopi turut habis dalam sekejap. Energi mengalahkan kemalasan pagi itu. 

Semua persiapan telah matang termasuk mandi pagi yang tak lama, super dingin soalnya! Beberapa pesan masuk dalam aplikasi WA dari Asegaf berisikan rencana-rencana selanjutnya di Banyumas! Ciuman pamit telah menempel di semua pipi baik pipiku maupun pipi Bibi Keri. Doa selamat jalan teruntai untuk keselamatan. 

Raungan Xride terkentut-kentut dan melaju hingga Banyumas. Sempat bingung saat mencari lokasi warung bakmi milik Yudha. Beberapa pesan WA terkirim namun belum terbaca. Kembali melihat aplikasi Google Maps, sebelumnya saya telah mencantumkan warungnya Yudha ke Google Maps, jadi dengan mudah saya menemukannya. 

Saya Dan Asegaf Pose Di Gedung Eks Kantor Keresidenan Banyumas

Sambutan hangat Yudha membawa saya masuk ke warungnya yang luar biasa! Wah keren sekali orang semuda dia sudah punya usaha yang keren! Salut buat dia! Pembicaraan bergulir dengan aktivitas dapur untuk keperluan dagang nanti sore, aku pun turut membantunya dengan mengiris bawang merah, mengiris kacang ercis. Bercengkrama dan bertukar pengalaman, pemikiran dan nasehat dengan asisten Yudha membuat saya semakin mantap dan optimis untuk menjalani hidup. Asisten Yudha adalah seorang ibu-ibu umur 40 tahun lebih tapi ternyata wajahnya yang ayu nan awet muda mengelabui mata saya sehingga nampak umur 30 tahunan. Dia memberikan tips sederhana dalam hidup "hidup sederhana dan berbahagialah" pesannya yang singkat namun berarti.

Yudha sepakat untuk berjalan-jalan keliling Banyumas. Saya dan Asegaf menyetujui dengan batasan waktu sampai jam 3 sore saja. Tempat pertama yang dikunjungi adalah bekas kantor Keresidenan Banyumas yang sekarang menjadi Kantor Camat Banyumas. Bekas kantor Keresidenan Banyumas ini sangat kental dengan arsitektur Indisch dengan jendela dan pintu yang besar dan juga dengan gaya art deco. Suasana bekas kantor Keresidenan itu cukup ramai oleh siswa yang sedang nongkrong di bawah rindangnya pohon maupun di pendopo. Sangat terbuka sekali kantor pemerintahan kepada rakyatnya, patut diacungkan jempol. Penasaran dengan apa yang ada di beranda bangunan utama, saya sengaja mendekat. Hiasan berupa foto sejarah masa kejayaan Keresidenan Banyumas dibawah pemerintahan kolonial saat itu terpampang dalam bingkai hitam putih. Penuh artistik. Jika dibandingkan dengan kondisi sekarang agaknya saya memilih kondisi saat masa kolonial dimana pohon besar lurus terawat dan tampak sangat alami, selain itu beberapa foto menunjukan keasrian taman di belakang kantor keresidenan. Dalam sejarah Keresidenan Banyumas meliputi wilayah kabupaten Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, dan Purbalingga. Banyumas sendiri merupakan Ibukota Keresidenan saat itu.  

Pendopo Keresidenan Banyumas

Beberapa foto tercipta di bekas kantor karesidenan. Hanya saja saya malas untuk berfoto, maklum rambut acak-acakan. Berjalan kembali ke arah selatan melihat Monumen Nasional Banyumas. Monumen ini mempunyai tinggi 800 cm saja dengan bentuk mirip seperti tugu Jogja. Dibangun pada tahun 1959 sebagai peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 14 dan sebagai peringatan bahwa keterlibatan masyarakat Banyumas dalam merebut kemerdekaan. Monumen Nasional ini diresmikan oleh presiden Ir Soekarno saat kunjugan ke Banyumas.

Matahari mulai memasuki titik paling lurus dengan tubuh pertanda masuk waktu solat duhur ataupun solat jumat, Yudha mengambil beberapa sarung untuk kami, sementara saya dan Asegaf menunggu di tempat duduk terbuka di alun-alun Banyumas tepatnya di depan pintu gerbang Masjid Nur Sulaiman, masjid raya Banyumas. Masjid Nur Sulaiman merupakan sebuah cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah setempat dengan adanya ketetapan dalam perundangan daerah. Masjid ini menggunakan arsitektur Hindu Jawa dengan adanya atap berundak. Istimewanya dari masjid ini dibangun dengan kayu. Saya sendiri tidak bertanya kepada petugas masjid tentang kayu yang digunakan. Beberapa data sejarah yang saya dapatkan dari halaman website Dinporabudpar Kabupaten Banyumas menyebutkan bahwa Masjid Nur Sulaiman dibangun pada 1755 saat masa pemerintahan Adipati Yoedanegara II dan diarsiteki oleh Nur Daiman Demang Gumelem I, bapak Nur Daiman juga merupakan seorang penghulu pertama untuk masjid Nur Sulaiman itu sendiri.

Masjid Nur Sulaiman Banyumas

Sebelum adzan berkumandang persiapan peribadatan kami mengambil air wudhu, kondisi saat itu memang belum begitu ramai oleh para jemaat lainnya. Bersyukurlah karena tidak perlu berdesakan. Masuk ke dalam ruang utama masjid terasa menyejukan jiwa raga, arsitektur Hindu Jawa menghiasi begitu megah dan indah. Selapas ibadah kami hanya duduk sembari ngobrol ngalor-ngidul tentang rencana perjalanan selanjutnya. Rasa penasaran membuat saya dan yang lainnya mengunjugi situs rumah bersejarah yakni rumah Adipati Banyumas yang kondisinya sudah tidak layak lagi. Saat itu rumah Adipati ada yang menunggu tapi hanya anak kecilsaja yang sedang menonton Tv sehingga tidak terjadi wawancara lebih lanjut.

Beberapa teguk es dawet ayu khas Banjarnegara masuk ke dalam kerongkongan yang begitu kering karena terik matahari yang luar biasa panas. Beberapa kali mataku melihat aplikasi Google Maps untuk mengetahui tempat menarik terdekat. Ternyata tidak ada tempat menarik terdekat lainnya selain tempat ziarah umat Khatolik di Kaliori. Tersebutlah komplek  Gua Maria  yang hanya sejengkal jaraknya dengan aliran sungai Serayu. Bagi saya ini adalah pertama kali mengunjugi situs suci umat Khatolik dan pertama juga untuk Yudha dan Asegaf. Tapi sebelumnya saya juga sering berkunjung ke tempat suci umat Kristen lainnya seperti Gereja namun baru pertama bertandang ke situs suci Gua Maria. Semakin penasaran dengan Gua Maria yang berada di Kaliori, kami bertiga berangkat ke lokasi.

Rumah Kepatihan Banyumas

Suasana hening nan damai, tampak satu rombongan peziarah menggunakan satu bus besar dan sudah bersiap dalam rangkaian peribadatan tangga/stase rosario. Puji-pujian mulai dikumandangkan dan kami pun mulai memasuki wilayah Gua Maria. Yudha tampak berani untuk masuk ke dalam, Asegaf tampak ketakutan. Entah apa yang membuat Asegaf takut. Saya jelaskan bahwa berkunjung bukan berarti pindah agama dan saya bandingkan plesiran ke candi Borobudur maupun ke Pura di Bali. Saya pikir pola pandang memang harus dirubah antara pemeluk Muslim agar lebih toleran. Sepanjang stase rosario saya jelaskan hubungan Islam, Kristen dan Yahudi dimana ketiga agama besar tersebut merupakan satu aliran atau juga kakak beradik. Penjelasan demi penjelasan mereka tampak mengerti dan lebih toleran ataupun lebih terbuka akan sudut pandang terhadap agama lainnya. Sesuatu yang luar biasa saat saya berbicara santai dengan jemaat yang sedang beribadah di gua. Selepas ibadah sepasang suami istri saya wawancara, pertanyaan demi pernyataan saya lontarkan bersambung dengan lontaran pertanyaan dari Asegaf dan Yudha tampak mengalir begitu damai. Sesuatu yang luar biasa. 

Berkunjung ke sini (Gua Maria) bukan untuk pelunturan iman tetapi untuk memantapkan iman terhadap agama saya sendiri yakni Islam. Saya sepakat bahwa Islam adalah agama universal yang penuh dengan kedamaian. Kepercayaan itu saya gunakan untuk melihat agama lainnya yang mesti dihormati. Kesempatan langka saya bisa berfoto dengan rosario yang dibawa dari Jarussalem oleh-oleh teman dari peziarah.

Pose Di Depan Patung Yesus Memberkati

Komplek Gua Maria Kaliori bertempat di desa Kaliori, kecamatan Kalibagor, kabupaten Banyumas. Menurut sejarah Gua Maria dibangun pada Augustus 1989 oleh Uskup Agung Purwokerto. Komplek Gua Maria mempunyai luas 5,6 Hektar dengan fasilitas taman rosario, jalan salib, tempat berdoa dan yang lainnya. Untuk memasuki wilayah ini tidak dikenai biaya apapun. Bukit Gua Maria dipenuhi oleh pohon rindang dengan taman yang apik.

Selapas perjalanan ke Gua Maria, kami kembali ke warung Yudha sesuai dengan rencana sebelumnya yakni jam 3 sore. Hanya saya yang menginap di warung Yudha, sementara Asegaf pulang karena ada temu janji dengan teman sekolah. Warung buka mulai jam 4 sore saat itu belum ada pelanggan, satu sampai dua jam pelanggan berdatangan hingga warung penuh pada jam 7-10 malam. Selain melayani pelanggan yang datang ke warung, Yudha juga melayani pelanggan yang pesan melalui telpon maupun pesan singkat.

Rosario Dari Jarussalem Yang Ku Pinjam

Sebelum ibadah sembahyang magrib saya menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sekitaran alun-alun Banyumas yang terkenal akan pesawat tempur yang menjadi icon alun-alun. Suasana saat itu tidak begitu ramai oleh pengunjung tapi bisa dikatakan cukup ramai. Banyak warga datang untuk berfoto di bawah tugu pesawat di depan air mancur. Anak-anak lainnya tampak ceria dengan berbagai permainan yang disewa dari pedagang mulai dari sepatu roda, mobil-mobilan, dan permainan memancing. Jajaran gerobak kuliner berjajar di sebelah utara alun-alun. Anak muda tampak nongkrong di sebelah sana.

Ikon Baru Alun-alun Banyumas

Mengisi waktu saya persembahan untuk membantu Yudha melayani setiap pelanggan yang datang ke warung untuk makan. Lelah sudah seperti malam hening dengan dentingan detik jam. Aku tertidur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parfum Garuda Indonesia: Parfum Yang Mempunyai Hukum

Kata Serapan Bahasa Portugis dalam Bahasa Indonesia

Jenis-Jenis Kenduri Dalam Adat Islam Jawa