Langsung ke konten utama

Corat Coret Di Toilet - Eka Kurniawan

Jenis Kenduri Kelompok

Sebelumnya saya telah menjelaskan beberapa kenduri yang diselenggarakan oleh perorangan dengan maksud tertentu,  kali ini saya ingin menjelaskan kenduri yang dilakukan oleh komunitas alias masyarakat. Kita akui bahwa adat budaya Jawa sangat rumit tentang upacara ataupun yang lainnya, kekayaan inilah yang membuat semua orang bangga dan banyak bersyukur pada Tuhan.

Tujuan utama dari kenduri kelompok ini biasanya mengharapkan sebuah kesejahteraan, bentuk terima kasih atas karunia Tuhan, dan segala tujuan yang diharapkan madya setempat. Kenduri kelompok tidak diselenggarakan di rumah perorangan melainkan di tempat umum atau fasilitas umum seperti Balai Desa, Lapangan, Masjid, Mushola maupun fasilitas umum lainnya. Kenduri ini diselenggarakan dengan dana desa atau kelompok tertentu baik melalui galangan dana maupun membawa tumpeng, makanan ringan dan minuman yang telah dibagi tugaskan kepada orang-orang yang berpartisipasi.

Hidangan Kenduri Kelompok, Foto Milik Bapak Kiyai Soedirman Moentari

Kenduri kelompok tidak ada undangan resmi melainkan kesukarelaan untuk datang. Tidak hanya laki-laki atau perempuan saja yang yang ikut serta melainkan semua kalangan. Karena mengharapkan suatu kesejahteraan, keselematan dan keamanan bersama maka yang datang dari berbagai kalangan jenis kelamin, usia, profesi dan yang lainnya.

Upacara prosesi kenduri diketuai oleh pemuka agama setempat biasanya per-RT, atau tergantung pada tingkatan penyelenggara suatu kenduri. Terdapat pembagian tugas pada sesi tawasul, sambutan maupun prosesi adat lainnya. Pakaian yang digunakan biasanya bebas tapi sopan, lebih mengutamakan pakaian dengan aturan agama Islam. Dalam waktu dan tempat berbeda kadang tidak ada aturan pakaian dengan cara agama Islam melainkan aturan norma kesopanan dalam berpakaian.

Hidangan yang dibawa tak ubahnya kenduri lainnya hanya tidak ada besek yang dibawa ke rumah, bisa dibawa ke rumah namun hanya berbungkus daun pisang, namun bisa jadi karena perkembangan zaman bisa dibawa dengan kotak nasi maupun pembungkus makanan lainnya. Hidangan utama biasanya berupa nasi tumpeng baik nasi putih, nasi kuning atau nasi gesek. Minuman yang disediakan utamanya adalah air teh dan air bening. Jarang sekali yang menyediakan air kopi maupun air jenis lainnya. 

Makanan yang tersedia biasanya hasil galangan dana masyarakat ataupun hasil sumbangan makanan langsung jadi dari masyarakat. Hidangan kenduri bersama ini lebih diutamakan dimakan bersama selepas doa ataupun selesai upacara kenduri. Keutamaan dari kenduri bersama selain doa bersama yakni terjalinnya hubungan yang harmonis antar individu ataupun kelompok masyarakat. Terjalinnya hubungan harmonis tercipta dengan sempurna dan menyenangkan saat prosesi makan bersama.

Kenduri Sawalan/Kenduri Bada

Kenduri kelompok ini termasuk dalam katagori kenduri rasa syukur atas nikmat sehat dan segala rahmat selepas melaksanakan puasa Ramadan satu bulan penuh dalam kalender Islam, Hijriyah. Kenduri ini dilaksanakan di mushola ataupun masjid selepas sembahyang Idul Fitri. Kenduri dipimpin oleh bapak Haji atau kiyai yang memimpin mushola ataupun masjid tersebut.

Makanan yang dihidangkan berupa tumpeng yang dibawa setiap anggota masyarakat dalam wilayah RT ataupun jemaat mushola/masjid tersebut. Tidak tersedia minuman karena sajian ini boleh dibawa pulang untuk dimakan oleh keluarga saat Idul Fitri.

Kenduri Suronan/Suro

Kenduri dilaksanakan untuk menyambut tahun baru Islam ataupun tahun baru kalender Jawa Islam sebagai bentuk rasa syukur akan tahun yang telah berlalu dan juga mengharapkan segala yang baik pada tahun selanjutnya. Diselenggarakan di Balai Desa, Lapangan, maupun fasilitas umum lainnya. Pengunjung bukan hanya dikalangan agama Islam saja melainkan semua penduduk yang ada.

Penyelenggara membuat gunungan yang terbuat dari hasil bumi baik buah-buahan maupun sayur-sayuran sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan. Di Surakarta maupun Yogyakarta juga disebut sebagai sekaten. Selain porsesi doa, ada prosesi adat budaya lainnya misalnya iring-iringan atau pawai kebudayaan. Pada umumnya diselenggarakan pada siang hari, ada juga yang diselenggarakan pada malam hari. Saat penyelenggaraan malam hari dilaksanakan di mushola, masjid, Balai Desa atau dalam ruangan.

Berbagai hidangan hasil sumbangan dana masyarakat ataupun sumbangan makanan dari masyarakat dimakan bersama setelah prosesi. Beberapa orang yang percaya akan menyimpan hasil prosesi rebutan gunungan sebagai sebuah berkah.

Kenduri Di Suriname, Foto Milik Bapak Kiyai Soedirman Moentari 

Kenduri
Munggahan Puasa

Kenduri kelompok ini termasuk pada ungkapan rasa syukur akan menyambut bulan Ramadan yang suci bagi umat Islam, tentunya dilaksanakan di mushola ataupun masjid terdekat. Kenduri munggahan dilaksanakan pada malam pertama bulan Puasa/Ramadan selepas solat sunah Ramadan (tarawih). 

Hidangan yang disediakan berupa tumpeng nasi berserta laukpauk. Dalam kenduri ini tidak disediakan minuman karena sajian ini untuk dinikmati saat dirumah menjelang sahur (makan terakhir sebelum fajar). Sumbangan hidangan dibawa oleh masyarakat yang mampu dan mempunyai dana untuk membuatnya. Bagi yang tidak mempunyai dana tidak mengapa jika tidak membawa tumpeng.

Lumayan banyak juga ya, mungkin saudara sekalian mempunyai adat kenduri kelompok lainnya yang lebih spesifik, silakan diceritakan pada kolom komentar. Semoga tradisi ini akan selalu lestari. Salam.

Pagi yang becek, 7 April 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Mengenal Tanaman Kangkung Bandung (Kangkung Pagar)

Kangkung Bandung, sudah tahu tanaman ini? Menurut buku  biologi tanaman ini berasal dari Amerika Latin (Colombia, Costa Rica). Ciri tanaaman ini tumbuh tidak terlalu tinggi cuma sekitar satu meter sampai dua meter maksimal tumbuhnya. Kangkung Bandung tidak bisa dimakan layaknya kangkung rabut atau kangkung yang ditanam di atas air. Bentuk daun menyerupai kangkung yang bisa dimasak (bentuk hati) begitu juga dengan bentuk bunganya. Bunganya berbentuk terompet berwarna ungu muda terkadang juga ada yang berwarna putih. Batang Kangkung Bandung cukup kuat sehingga memerlukan tenaga cukup untuk memotongnya (tanpa alat).  Tanaman Kangkung Bandung Sebagai Patok Alami Pematang Sawah Fungsi dan manfaat Kangkung Bandung sendiri belum diketahui banyak, beberapa sumber mengatakan tanaman ini bisa dijadikan obat dan dijadikan kertas. Pada umumnya masyarakat desa menjadikan Kangkung Bandung sebagai tanaman untuk ciri (patok) batas antar pemantang sawah. Daya tumbuh tanaman ini cuk...

Tarawih di Masjid LDII

Sepuluh menit yang lalu, usai sudah ritus tarawih ramadan. Kali ini saya sengaja untuk beribadah di masjid yang berlabel LDII. Masjid yang menurut orang-orang "serem" mesti dipel kalau bukan anggota!.  Banyak sentimen negatif pada organisme LDII bukan saja dari kalangan agama lain ataupun dari agama Islam sendiri. Bisa jadi sentimen negatif lebih parah dari golongan Islam yang lain. Rumor-rumor yang mengerikan nan menyesatkan membuat orang mbligidig untuk sekedar sembahyang lima waktu di masjid berplang LDII.  Saya mempunyai banyak pandangan terhadap Islam dan cabang-cabangnya, tentu saja tidak mau terbawa sentimen negatif nan menyesatkan. Perlu bukti nyata! Kini bukti tersebut saya rasakan dengan bertarawih di Masjid LDII Bojongnangka, Kertahayu, Pamarican, Ciamis.  Awal memasuki kawasan masjid rasanya terintimidasi oleh perasaan sendiri yang sudah terdoktrin oleh isu-isu negatif terhadap LDII. Barang sepuluh menit berlalu tidak ada lagi perasaan yang menekan diri saya, ...