Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Terima Kasih Telah Ditilang

Dapat titah dari mbak yu untuk membeli kompor gas dua tungku ke kota. Semua perlengkapan surat-surat kendaraan tak pernah saya lupa terelebih dengan peralatan safety riding wajib sekali. Saya sendiri selalu memakai helm walaupun naik sepeda motor dalam radius 1-2 km saja. Ya nilai kepala lebih mahal daripada nilai tilangan atau motor itu sendiri, dengan alasan tersebut saya selalu memakai helm. Orang kampung selalu mencemooh karena saya selalu memakai helm walaupun pergi ke jarak yang deket, biarlah mereka beragumen tapi saya tetap menghargai kepala saya yang satu ini. 

Peralatan safety riding diwajibkan bagi seluruh pengendara mobil maupun motor, aturan tersebut bukan untuk kepolisian tapi untuk keselamatan diri sendiri, jadi mohon jangan berfikir bahwa memakai helm untuk menghindari tilangan polisi, tapi berfikirlah memakai helm untuk keselamatan diri anda, ingat kepala lebih mahal dari semua harta yang anda miliki.

Sehabis pembayaran untuk membuat prangko prisma di Kantor Pos Pamarican, saya melanjutkan perjalanan ke Banjar untuk membeli barang-barang titah si mbak yu. Perjalanan terhenti di tanjakan Pangasinan, Binangun. Satu kelompok polisi lalulintas menertibkan semua pengendara mobil dan motor yang melintas tak terkecuali saya. Sang polisi yang ganteng khas wajah jawa menghampiri dengan ucapan selamat siang, dia meminta saya untuk menunjukan SIM (Surat Izin Mengemudi) dan STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan). Semua permintaan polisi saya turuti. Membuka dompet yang sebelumnya di simpan di bagasi motor dan saya serahkan. Polisi ganteng "Mas, anda saya tilang!". Terkaget kenapa saya ditilang?! Polisi menjelaskan bahwa motor saya telat membayar pajak. Wah berpikir lebih dalam dengan ucapan Pak polisi. Kok bisa ya saya tidak mengetahui kapan saya bayar pajak. Ya Tuhan!!! Kali ini baru saya tahu bahwa pajak motor harus dibayar setiap tahun sekali. 

Saya termasuk orang beruntung saat itu karena telah diberi penjelasan yang sangat rinci oleh Pak polisi. Berterimakasih sekali akan perhatian dari polisi tentang pajak maupun hal lainnya. Selain informasi soal pajak, Pak polisi memberi tahu tempat pembayaran pajak dan juga dokumen yang harus dibawa saat membayar pajak. 

Perjalanan kembali saya lanjutkan dan berbelanja. Salaam!

Dalam kamar di tengah hari yang mendung, 7 April 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...