Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Gebing - Lauk Sakral Khas Budaya Jawa

Kali ini saya ingin berbagi kuliner khas dan bisa disebut sebagai kekayaan budaya jawa. Budaya jawa memang syarat akan suatu ritual-ritual yang ditunjukan kepada Tuhan, tak lupa setiap ritual mempunyai sajian khas-nya masing-masing.

Tompon nama yang selalu ada setiap upacara kematian pada masyarakat jawa. Tompon sendiri mempunyai arti nasi slametan dari meninggalnya seseorang. Tujuan dari tompon tidak lain tidak bukan sebagai permohonan keselamatan pada jiwa atau roh orang yang meninggal agar moksa atau bersatu dengan Tuhan. Tompon dibagikan kepada  tetangga setelah upacara penguburan jenazah selesai, satu keluarga mendapatkan satu tompon yang dibungkus dengan daun pisang.

Isi dari tompon ada satu kepal besar nasi dan jangan (lodeh), lodeh ini dinamai “Gebing”. Gebing ini penuh dengan perlambang kehidupan manusia, Tak lupa lodeh ini cukup unik karena jarang sekali lodeh menggunakan bahan daging buah kelapa yang sudah tua. Selain itu lodeh ini hanya dimasak saat upacara slametan setelah upacara penguburan saja.

Adapun perlambang dari Gebing: Ikan asin sebagai tubuh manusia, potongan daging buah kelapa tua sebagai gigi. Singkatnya manusia yang hidup dan akan meninggal dunia/kembali kepada Tuhan, sementara tubuh hanyalah jasad yang lebur dengan tanah. Sakral sekali memang hidangan ini, saking sakralnya tidak ada orang yang membuat hidangan gebing sebagai makanan sehari-hari. Tapi lain budaya lain lagi kepercayaannya, bagi Anda yang bukan orang jawa syah-syah saja membuat gebing tanpa memasukan makna atau hal yang berhubungan dengan gebing. Anggap saja gebing sebagi makanan biasa. Berikut resep dari gebing:

Ikan asin

Cabe hijau besar

Minyak goreng

Tempe

Lengkuas

Daging kelapa agak tua

Kecap manis

Garam

Bawang merah

Bawang putih

Gula merah

Cara membuat:

Tempe iris bentuk dadu atau persegi panjang kecil; Iris tipis (geprek) lengkuas; Cabe hijau besar iris serong; Daging kelapa tua iris kecil-kecil serupa dengan bentuk gigi.


Buat bumbu halus: uleg garam, bawang merah, bawang putih, gula merah.


Panaskan wajan dan tuangkan minyak goreng hingga panas, setelah panas masukan bumbu halus dan lengkuas hingga keluar aroma rempahnya.


Masukkan potongan tempe, ikan asin, potongan cabe hijau besar, potongan daging buah kelapa yang agak tua, orak-arik hingga bumbu rata. Jangan lupa masukan kecap manis. Orak-arik sampai tempe matang.


Demikian dari saya. Selamat mencoba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.