Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Peribahasa Dan Seloka Bahasa Jawa : C

Cablek-cablek lemut - Pelayan rumah tangga yang mengerjakan yang ringan-ringan saja.

Cacah-cucah caturan karo wong dhangling - Diri akan menjadi hina berbicara dengan orang gila.

Cacah eri - Bilangan/hitungan ikan di laut/sungai.

Cacah Molo - Perhitungan jumlah rumah besar dan kecil.

Cacah sirah - Perhitungan jumlah hewan atau orang.

Cacah upa - Segala perbuatan yang meregangkan segala hal yang telah rapat.

Cagak alu - Orang yang mengajarkan sesuatu dipercaya atau diandalkan, ternyata tidak memenuhi harapan.

Cagak amben cemethi tali - Orang yang kuat dipercaya untuk segala tugas.

Cagak elek - Sarana untuk bergadang.

Cala beka - Segala sesuatu yang telah baik tiba-tiba mendapatkan kesulitan karena kesengajaan.

Calak cangkol kendhali bol cemethi tai - Orang yang mendahului bicara, mengganggu orang sedang bicara dan tidak ada guna ucapannya.

Calawenthah - Orang yang sewenang-wenang.

Candra kalamukan buda - Orang yang tertuduh tapi tidak benar.

Candhak cekel - Orang yang meminjamkan barang dengan jaminan, kemudian diperhitungkan untuk pembayaran kembali hutang tersebut.

Candhak kulak - Pinjaman kepada pemerintah untuk modal berdagang kecil-kecilan.

Candhak rawud - Orang yang meminjamkan barang dengan jaminan, kemudian diperhitungkan untuk pembayaran kembali hutang tersebut.

Chanduk luwung - Berkenalan dengan perantara teman.

Cangkem gatel - Orang yang suka memaki.

Cap tembaga - Barang yang tetap tidak mudah rusak.

Car-cor kaya wong kurang janganan - Bicara sesukanya sendiri.

Cariwis cawis - Orang yang menolak/membantah tugas/perintah, tetapi dalam hati berniat untuk mengerjakan tugas tersebut.

Caruk banyu - Orang yang membeli barang tanpa memilih, tanpa perhitungan.

Caturan ora karuwan bongkot pucukè - Orang yang berbicara tak karuan.

Catur manggala - Pembesar (patih, penghulu, hakim dan pujangga).

Cathok gawel - Orang yang suka mendahului bicara.

Caweta tekan wadone - kalimat sesumbar sebagai ungkapan tidak takut dilawan.

Ceblok alu - Orang yang bergiliran untuk mengerjakan sesuatu.

Ceblok kangkung - Penawaran barang yang selalu harganya bertambah.

Cebol anggayuh langit - Langka atau mustahil.

Cebol anggayuh lintang/wulan - Langka atau mustahil.

Cebol pelikan - Orang yang hina pekerjaannya.

Cecangguk - 1 Orang yang mencari nafkah untuk keluarga. 2 Orang yang berusaha untuk anak cucunya hidup mandiri.

Cekel loganing bale - Orang yang pekerjaannya rendahan.

Cengkoh regoh - Orang tua renta sudah tidak bisa bergerak.

Cengkir ketindihan kiring - 1 Orang yang kalah tua, kaya, pangkat dll. 2 Anaknya kawin, ayahnya juga kawin lagi.

Cengkok - Orang yang bicara dan perbuatannya dibuat-buat.

Cethethet woh kudhu - Aneh dan tidak mungkin.

Cibuk cangkir - Orang yang ingin mendapatkan banyak tapi akhirnya dapat sedikit.

Cikal tapas limar - Mendapatkan keuntungan yang luar biasa.

Cina craki - 1 Orang yang sangat kikir. 2 Orang yang sangat perhitungan.

Cina diedoli edom - Tempat kepandaian dipameri kepandaian.

Cincing-cincing teles/klebus - 1 Mengadakan pesta kecil-kecilan tapi akhirnya mengeluarkan biaya besar. 2 Pekerjaan kecil menjadi besar. 3 Awalnya tidak tersangkut perkara akhirnya tersangkut perkara.

Cininthaka candra - Mencuri pada malam bulan purnama (hari terang) tertangkap dan dipukuli hingga babak belur.

Ciri wanci lalai ginawa mati - Orang yang mempunyai sifat buruk yang tidak akan hilang.

Cita wicita - Orang baik hati dan selalu senyum.

Citra wicita - Orang tampan yang selalu berkata baik dan halus.

Cilemen - Segala sesuatu dengan biaya pas-pasan atau kecil.

Cobolo mangan teki - Orang bodoh pantasnya hanya makan teki.

Cocak anguntal elo - Mustahil.

Colong pathek - Diluar dugaan.

Colotan cablekan - Keuntungan dari transaksi calo.

Corok jero - Orang yang berzina dengan istri orang lain.

Cosing walang tatu - Orang yang menyaksikan pembunuhan dengan senjata tajam.

Cukeng wrengkeng - 1 Pelit sekali. 2 Ngotot tidak mau kalah dalam pembicaraan.

Cumandaka - Orang yang melakukan mata-mata.

Cumbu laler - Orang yang tidak setia.

Cuplak andheng-andheng yen ora prnah penggonane - Orang yang buruk atau jahat harus disingkirkan dari keluarga.

Cucuran banyu kendi - Dua orang yang saling bersumpah.

Sumber: Mardiwarsito, L.1992.Peribahasa Dan Saloka Jawa.Jakarta:BalaiPustaka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...