Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Peribahasa Dan Seloka Bahasa Jawa : P

Padu (madu) balung tanpa isi - Pertengkaran yang tidak ada manfaatnya.

Padu jiwa dikanthongi - Orang pandai membantah/berdebat.

Padune kaya welut dilengani - Orang yang tidak dapat dipegang ucapannya.

Padune ngeri - Perkataanya menyakitkan hati.

Padhang atapa - Orang jujur berbuat apa adanya.

Pager klaras - Pelayan yang tidak dapat dipercaya.

Pait getir - Segala kesulitan dan rintangan.

Paksi angkara asmana - Orang yang celaka karena keserakahannya.

Palang mangan tandur - Orang yang dipercaya menjaga barang akhirnya mrngambilnya.

Pambabar tutur - Biaya laporan pembunuhan diambil dari sumbangan masyarakat sekitar rumah duka.

Pamedhot kenteng - Biaya orang yang saling gugat di luar batas.

Pampang-pumpung - Orang yang mau mengambil paksa barang orang lain.

Pancuran kaapit sendhang - Tiga bersaudara; satu lelaki dua perempuan.

Pandengan lan srengenge - Orang kecil bermusuhan dengan orang besar.

Pandhan isi pendhonga - Wanita bangsawan hamil.

Pandhitaning endog - Rohaniawan yang kotor hatinya.

Pandhitaning hantelu - Rohaniawan yang kotor hatinya.

Pandhitaning hantiga - Rohaniawan yang kotor hatinya.

Para putra sana - Hakim yang menganggap orang berselisih seperti anak sendiri.

Panglubar - Biaya penyelesaian perkara.
Pasang prabu linukawat - Banyak.

Patra kesisan - Seseorang yang tertuduh yang telah dicatat di lain waktu memberikan keterangan yang berbeda.

Patra laksana amangun satmata - Orang yang menggugat karena meminjamkan uang dengan kesaksian palsu.

Pathok bangkrong/bangkrung - Orang menawarkan barangnya tidak boleh kurang sedikit pun.

Pecel alu - Orang yang berbudi pekerti kaku.

Pecruk tunggu bara - Orang yang dipercaya menjaga kegemarannya. Kegemaran dalam arti barang haram seperti narkoba, miras dll.

Peking buntut merak - Perkara kecil lama-lama menjadi besar.

Perang batin - Orang bercekcok dengan surat menyurat.

Perang lair - Orang berperang hanya ikut-ikutan orang banyak.

Pet poeng - Sahabat yang biasa saling mengunjugi tiba-tiba tidak.

Pethuk sungut - Berkenalan dari jauh hanya saling mengirimkan pesuruh.

Pethuk pederakan - Orang urakan tidak tahu asal muasalnya.

Pidak sikil - Orang yang sudah seia sekata Dan saling mengerti.

Pidak sikil jawil mungkur - Orang yang sudah seia sekata Dan saling mengerti.

Pilih kasih - Tidak membagi kasih, tidak adil.

Pilih-pilih tebu - Orang yang menolak barang buruk, menerima barang yang lebih buruk lagi.

Pil pol - Orang kikir.

Pira bara - 1 Alangkah baiknya jika. 2 Berapa biaya untuk.

Pisah kebo - Suami istri berpisah tetapi belum cerai secara resmi.

Pithik trondol dibubuti - Sudah miskin diambil barangnya.

Pithik trondol diumbar ing padaringan - 1 Orang miskin dipercaya menyimpan uang. 2 Durjana diberitahu tempat menyimpan uang.

Pithik trondol saba ing lumbung - Orang miskin diserahi menyimpan harta benda.

Popo anyalawati - Penduduk yang tidak mau melacak lari penjahat, mendapatkan dugaan bersekutu dengan penjahat.

Praja kabali murda - Raja menggugat rakyatnya.

Pralingga - Orang yang digugat meminjam uang, mengakui dan berjanji akan mengembalikan.

Prawan gandhor - Anak perempuan leas menjadi besar.

Perawan kencur - Anak perempuan hampir dewasa.

Prawan sunthi - Anak perempuan hampir dewasa.

Prawata bramantara - Orang membicarakan keburukan orang lain.

Pringga raksa - 1 Orang mendengar bahwa dia akan digugat seseorang lalu mendahului melapor ke hakim. 2 Orang yang mempunyai perkara mendapatkan bantuan dari hakim.

Pring sadhapur - Hakim sekerabat.

Punjul ing apapak - Orang melebihi sesama dalam hal kepandaian.

Punuk ati - Orang suka dipuji.

Pupuk bawang - Orang disamakan dengan anak-anak.

Pupur sadurunge benjut - Berpayung sebelum hujan.

Pupur uwis benjut - Berwaspada sesudah mengalami malapetaka.

Sumber: Mardiwarsito, L.1992.Peribahasa Dan Saloka Jawa.Jakarta:BalaiPustaka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.