Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Peribahasa Dan Seloka Bahasa Jawa : J

Jaka jebug - Lelaki yang sudah tua belum kawin, bujang lapuk.

Jaka kencur - Perjaka yang belum akil baligh (belum mimpi basah).

Jaka kumala-kala - Perjaka yang sudah mulai baligh.

Jalak ampir - Orang yang berpergian dengan mampir-mampir.

Jalma mati murka - Orang serakah, mati karena keserakahannya.

Jamur tuwuh ing sela - Keinginan yang aneh.

Jamur tuwuh ing waton - Keinginan yang aneh.

Janma angkara mati murka - Orang yang mendapatkan celaka karena keserakahannya.

Jangkrik mambu kili - Orang pemarah ditambah hal yang membuat marah.

Jaran karubuhan emyak - Orang yang sudah mendapatkan kecelakaan hatinya masih syok.

Jarit luwas ing sampiran - Orang pinter tidak terpakai dalam pekerjaan.

Jati kalusuban luyung - 1 Orang baik didekati orang jahat. 2 Orang yang kemasukan mata-mata.

Jawil mungkur - Orang yang seia sekata.

Jejarumat - Orang yang mencari dan menyiarkan berita.

Jeksa pring sidhapur - Hakim sekerabat.

Jembar segaranè - Orang yang suka memaafkan.

Jemenul kenul - Orang bandel.

Jenang dodol tiba ing wedhi - 1 Kata-kata yang tidak mengenakan hati. 2 Pembicaraan sudah selesai namun masih ada yang mengganjal.

Jenang salayah - Orang seia sekata.

Jero jodhonè -  1 Lama tak kawin. 2 Lama tidak berhasrat kawin.

Jinabung alus - Orang yang terbujuk atau tertipu oleh kata manis.

Jiniwit katut - Sanak saudara yang diibaratkan kulit daging, jika dicubit maka akan merasa sakit.

Jingjang api goyang - Orang yang dalam batinnya tidak percaya akan kata-kata tutur kata lawan bicara.

Jurang grawah ora mili - Banyak janji tapi tidak ditepati.

Juris baris - Orang yang mengharapkan kesalahan orang lain.

Sumber: Mardiwarsito, L.1992.Peribahasa Dan Saloka Jawa.Jakarta:BalaiPustaka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.