Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Peribahasa Dan Seloka Bahasa Jawa : Sa - Se

Sabandhoyot - Sekerabat, sekeluarga, sekaum.

Saban seban - Tempat yang sering didatangi.

Sabda amerta - Orang yang sabar banyak maklum/pengertian.

Sabda candhala - Perempuan bertengkar sesama perempuan, saling mencaci.

Sabda laksana - Orang yang melaksanakan ucapan sendiri.

Sabda minangka panggeh - Keputusan perdata tidak boleh berubah.

Sabda pandhita - Orang yang memenuhi atau menepati kata-katanya sendiri.

Sabda pandhita ratu - Kata-kata yang diucapkan tidak bisa ditarik kembali.

Sabda parosa - Orang lelaki bertengkar sesama lelaki saling mencaci.

Sabda tan yukti - Ucapan seorang penjahat.

Sabujakah - Orang makan bersama dengan penjahat.

Sada tan ana wadu jana - Mengibaratkan orang yang tidak mengingkari atau merubah janjinya.

Sadawanane lurung isih dawa gurung (cangkem) - Perbuatan orang baik atau buruk, dirahasiakan bagaimana pun akan tersiarkan.

Sadulur sinoroh wadi - Sahabat serahasia/akrab.

Saeka saksi - Bersaksi dengan saksi buatan. 2 Orang yang menunjuk saksi secara tiba-tiba di pengadilan.

Sagalakanea macan, ora kulo mangan anakè - Betapa pun ganas dan buruk hati manusia tak ada yang membunuh anaknya.

Sagara estha wasa - Lelaki menangkap perempuan lain dan diberlakukan seperti istrinya.

Sagara wacana - Lelaki mengajak atau memberi isyarat kepada wanita lain untuk berkehendak.

Sagerah - Orang yang memberi senjata tajam kepada penjahat.

Sagethok sakilan - Jauh dekat masih saudara.

Sagotrah - 1 Sekumpulan rumah. 2 Sekerabat. 3 Sekelompok orang yang menyimpan barang curian.

Sahasa ulon - 1 Orang yang nekat berbicara. 2 Orang yang keras bicaranya.

Said kawudan - Pelaporan perdata yang tidak jelas tanggal dll.

Sajabaning parimana - Di luar batas normal.

Sajimpit sakojong - Pemberian atau pembagian berat sebelah.

Saka dipa - Bersandar pada raja.

Sakecoh-kecohe - Berbicara seenak perutnya sendiri.

Sakedah sakerah - Dikerjakan semaunya sendiri.

Saksi aji - Bersaksikan bangsawan.

Saksi angandha gerah - Saksi yang tidak tahu menahu mengenai terjadi suatu perkara.

Saksi angiwak-iwak - Saksi hanya mendengarkan dari kejauhan.

Saksi dana - Bersaksikan seorang hartawan.

Saksi kulina dharma - Saksi yang memaparkan kejujuran dan kebaikan.

Saksi mahaciri - Saksi orang kecil/mempunyai banyak luka.

Saksi mantri panggah - Bersaksikan seorang mentri yang teguh hatinya.

Saksi ngundha gerah - Saksi tidak tahu menahu kejadian.

Saksi pondhongan - Saksi buatan.

Saksi rambe (rumembe) - 1 Saksi sanak-saudara. 2 Saksi menyusul.

Saksi sakuthah - Orang yang membuat saksi sanak-saudara atau tentangga.

Saksi tan acah - Saksi yang tidak bohong.

Saksi tumpang teh - 1 Saksi belum ditanya sudah bicara. 2 Saksi yang membantu dua pihak.

Saksi wanto - Saksi guru yang mengajarnya.

Sakuku ireng - Barang sesuatu yang sedikit.

Salaku jantraku - Orang yang menyuruh mengikuti keinginannya.

Salatara - Ternyata.

Salin salaga - Berubah kelakuannya.

Sambung watang temper - Orang yang menguggat orang mati.

Sandhang-sandhang rowang - Orang dituduh membabit/merembet-rembet ke sanak-saudara.

Sandhing kebo gupak - Orang yang mendekati orang yang sedang marah/bertengkar, bisa-bisa terlibat.

Sandhing kirik gudhigen - Orang yang dekat dengan orang jahat maka akan jadi jahat (ketularan).

Sanggar waringin - Orang yang menjadi tempat pengungsian/perlindungan.

Sapikul sagendhongan - Beda antara pekerjaan lelaki dan perempuan.

Sapu ilang suhe - Orang yang hilang tali pengikatnya.

Sara prana pandhita murcita - Pendeta jatuh namanya karena memberi saran kepada penjahat.

Sarik dalan sandhung watang - Segala sesuatu yang menjadi halangan.

Sarira dana - Orang yang serba rela memberikan barang kepada seseorang.

Sarpem ana wismem, prabem wisesa pakreti mati - Penjahat apabila dipergoki wajib dibunuh.

Saruka lingga - Orang memberi tempat kepada penjahat.

Sarupa tiksana - Orang memberi senjata tajam kepada penjahat.

Sarupa wastra - Orang yang memberi persalin kepada penjahat, ditetapkan serupa dengan penjahat.

Sastra pralaya - Tidak mengakui.

Satindak sapecak - Jauh dekat hubungan keluarga.

Sato lingga jalma banyu santa angrusak ulam - Orang berzina.

Satru kabuyutan (bebuyutan) - Berseteru turun-temurun.

Satru manengah - Barang apa yang boleh disebut.

Satru munggwing (munggeng) cangklakan - Saudara atau anak nakal.

Satu munggeng rimbangan - Sangat sesuai dengan kehendak dan hati.

Saubeng kandhange - Termasuk dalam lingkungan/sewilayah.

Saur manuk (saur peksi, saur kokila) - Kesepakatan orang banyak yang menjawab: ya... tidak.... Serempak.

Sawat abalang kayu - 1 Orang meramal barang sesuatu jarang yang benar. 2 Orang yang mempunyai keinginan mustahil. 3 Mengadudomba saudara sendiri.

Sekul pamit - Terlambat mengerjakan sesuatu dan tidak mendapatkan upah.

Sekul urug - Segala sesuatu yang tidak ada manfaatnya sama sekali.

Sumber: Mardiwarsito, L.1992.Peribahasa Dan Saloka Jawa.Jakarta:BalaiPustaka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...