Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Peribahasa Dan Seloka Bahasa Jawa : W

Wadhuk beruk - Orang yang suka makan, tidak ada kenyangnya.

Walat tambang - Orang menambat ternak orang lain, didakwa ternaknya melanggar anak kecil/makan tanaman.

Wastra bedhah kayu pokah - Orang luka dan patah tulangnya.

Wastra lungsed ing sampiran - Orang pandai tidak terpakai dalam pekerjaan.

Wangsa gereh - Mengerjakan pekerjaan secara bergantian.

Wangsa amindha mintaya - Orang yang melakukan pembunuhan di tanahnya sendiri.

Watang angodhe - Orang menggugat, lalu mengusulkan gugatan lagi.

Watang bubuken - 1 Terhentinya gugatan karena si penggugat sakit. 2 Tidak jadi menggugat karena sakit.

Watang putung - Gugatan terhenti lantaran si penggugat pergi.

Watang temper - Gugatan terhenti lantaran si penggugat meninggal.

Watang tuna - Gugatan yang tidak benar.

Wawalan banda - Bermusuhan dengan orang dhaif/lemah.

Wedang lelaku tumper cinawedan - Orang panas, dihindari oleh temannya sendiri.

Wedi ing wayangane dhewe - Orang yang berbuat tidak baik merasa ketahuan banyak orang hantinya was-was.

Wedi rai wani silit - Takut saat berhadapan langsung, berani saat orangnya sudah pergi.

Wedhus diumbar ing pakacangan - 1 Orang yang serba kekurangan diberitahu tempat harta benda. 2 Orang perempuan pingitan berperilaku tidak baik diberi tempat ramai.

Welas temahan lalis/ Welas wekasan lalis - Berbuat baik kepada seseorang, akhirnya mendapatkan sengsara kepada orang yang menerima pemberian itu.

Welut diedholi udhet - Tempat kepandaian dipameri kepandaian.

Weruh ing grubyung ora weruh ing rembung - Orang yang terikut-ikut barang sesuatu, akan tetapi tidak tahu asal mula pembicaraan.

Widara uleren - Lahirnya nampak bagus batinya buruk.

Wigih-wigih urang - Orang yang memegang barang sesuatu dengan rasa jijik.

Wilet sedana - Hakim meminta ruba kepada orang yang berperkara.

Wilut sabda biksana sandi upaya - Orang yang memberi keterangan berpihak pada hakim.

Wirang ambarang - Menunjukan rahasianya yang memalukan diri.

Wira paksa - Orang yang menggunakan kekuasaannya dengan angkuh.

Wisa dana - Hakim yang suka berkunjung ke rumah yang sedang saling menggugat.

Sumber: Mardiwarsito, L.1992.Peribahasa Dan Saloka Jawa.Jakarta:BalaiPustaka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...