Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Peribahasa Dan Seloka Bahasa Jawa : NY

Nyalak alu - Orang yang dianggap diandalkan kebenarannya ucapkan dan tindakan, namun ternyata salah.

Nyakot kelud - Orang yang tidak kebagian barang yang dikumpulkannya.

Nyalulu nerwelu - Orang datang tanpa diundang.

Nyambung watang putung - Orang yang merukunkan orang yang sedang retak hubungannya.

Nyangga bokong - Orang yang menjaga kedudukan suami, sanak-saudara, teman dll agar lestari/selamat.

Nyangga krama -  Berbicara sopan untuk menyenangkan orang, sebenarnya dusta.

Nyangoni kawula minggat - Berbuat kebaikan kepada orang bejat.

Nyaruk wongwa - Orang yang mengambil hati musuh.

Nyaru wuwus - Orang yang nimbrung percakapan orang lain.

Nyathak anjalu watu - Menghadap orang tanpa diundang.

Nyawat balang wohe - Orang bermaksud sesuatu dengan perantara.

Nyawati akarya desi - Orang yang mengingkari ucapannya.

Nyawuk kempul - Orang yang nimbrung percakapan.

Nyempal sambi amancal - Pelayanan minggat dengan membawa harta majikannya.

Nyampaluki - 1 Menambah sesuatu hal menjadi buruk. 2 Merongrong kebahagiaan orang lain.

Ngorek tinja (tai) ing batok - Membongkar-bongkar kejelekan saudara sendiri.

Nyered blarak saka ing pucuk - 1. Pekerjaan gampang dibuat susah. 2 Orang yang berperkara dengan satu orang lama-lama menjadi dengan banyak orang.

Nyered pring saka pucuk - 1. Pekerjaan gampang dibuat susah. 2 Orang yang berperkara dengan satu orang lama-lama menjadi dengan banyak orang.

Nyidhem premanen (meremanem) - Orang yang merahasiakan peristiwa pembunuhan.

Nyirna wadhana - Orang yang mengadili tanpa musyawarah.

Nyolok-nyolok mata - Orang yang membangkitkan kesalahan/mempermalukan orang lain di depan umum.

Nyolong pethek - Di luar dugaan.

Nyuda wacana - Orang yang mengurangi laporan.

Nyuwur gumilang - Orang yang tidak mempunyai rahasia, dimanapun bercerita.

Nyundhang batang banteng - Mengangkat pemimpin/bangsawan yang dalam keadaan lemah.

Nyunggi lumpang ketheng - Orang yang mendapat sesuatu yang tinggi.

Nyungkub kermat bejat - Memeperbaiki barang yang telah rusak semua.

Nyuwekake payung - Orang yang menyebabkan priyayi berlaku salah sehingga dipecat.

Sumber: Mardiwarsito, L.1992.Peribahasa Dan Saloka Jawa.Jakarta:BalaiPustaka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...