Sesuai judul di atas saya ingin sekali menulis atau mencatat apa yang saya dengarkan pada bulan ramadan, tentunya sebagai bekal saya dalam mengolah batin, akhlak maupun hal lainnya yang penting bagiku. Pada catatan ramadan ini disadur dari acara khusus ramadan yang telah diudarakan oleh Radio Unisia tahun 2018 lalu, acara ini di-isi oleh Ustdaz Dr. Fahruddin Faiz dengan judul program Filosofi Puasa. Bapak Fahruddin adalah seorang dosen tetap filsafat di Universitas Islam Negri Kalijaga - Yogyakarta atau umum disebut UIN Jogja.
Pada catatan pertama ini, saya akan menulis ulang tema Kewajiban Puasa. Tulisan ini sedikit banyak disadur atau dirubah oleh saya sendiri, namun tetap pokok atau isi pembahasan dari Pak Fahruddin. Semoga tulisan ini yang akan mendatang akan bermanfaat bagi saya dan para pembaca semuanya, amen.
Satu kebahagiaan umat muslim adalah berjumpa kembalian dengan Bukan ramadhan, para ulama juga selalu mendoakan kita untuk selalu berjumpa dengan bulan ramadan. Dalam kutipan ayat yang populer untuk ramadan adalah surat Al Baqarah ayat 183, pada ayat tersebut terdapat kata kutibba (diwajibkan). Istilah "diwajibkan" kalau dalam bahasa hukum dikenal sebagai Obligatory Values (Nilai yang tidak bisa ditawar/nilai kewajiban) dan dalam Islam nilai-nilai yang jenisnya Obligatory Values adalah nilai-nilai yang tidak bisa ditawar. Jadi puasa adalah ibadah yang tidak bisa ditawar dan harus dijalankan, mungkin puasa adalah ibadah yang penuh hikmah, mempunyai rahasia dan alasan-alasan lainnya yang bisa dijelaskan dalam ilmu kesehatan, psikologi, sosiologi dan yang lainnya. Namun yang jelas puasa ini adalah kewajiban, sekalipun tidak ditemukan hikmah, manfaat kesehatan, manfaat psikologi ataupun manfaat sosiologi.
Berhadapan dengan perintah puasa ini sama dengan berhadapan dengan semua rukun iman dan rukun islam. Dalam hal puasa, logika yang kita gunakan adalah logika keimanan (percaya sepenuhnya). Logika keimanan berbeda dengan logika keilmuan yang meragukan dulu baru percaya, sementara logika keimanan adalah seratus persen percaya. Pada Al Baqarah ayat 183 (wahai orang-orang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa...) Orang beriman adalah orang yang percaya, jelas disini menggunakan logika keimanan. Pada Islam kepercayaan adalah kepatuhan, ketaatan mutlak, tidak lagi bertanya-tanya,.tidak lagi ada keraguan. Dalam Islam juga ada hirarki keimanan yakni Iman (percaya 100%), Dhan (70-80% percaya), Shak (50% percaya), Wahm (70-80% tidak percaya) dan Kufur (100% tidak percaya). Pada puasa ramadan tentunya level kepercayaan seorang muslim harus pada level Iman, bukan lagi pada level Dhan ataupun Shak. Jadi puasa adalah kewajiban di level iman yang harus ditaati apapun syarat dan konsekuensinya. Kita tidak boleh meragukan baik dalam kata-kata, perbuatan ataupun perasaan, termasuk pada level dhan.
Manusia dengan ketidakmandirian-nya sehingga bahu-membahu saling membantu |
Berhadapan dengan kutibba secara batin dan agama kita harus beriman (percaya sepenuhnya), setalah itu berislam. Itu adalah tindak lanjut dari kepatuhan, kepasrahan total apapun yang diwajibkan dari Allah. Mungkin ada yang mengkritisi bahwa dia manusia adalah bebas, tanpa sandaran, eksis, mampu merumuskan dan memutuskan, apa yang dia ingin lakukan atau tidak. Mengapa orang harus patuh, harus pasrah total dalam agama? Itu adalah sederet pertanyaan yang muncul pada orang zaman sekarang sehingga di negara barat banyak orang yang anti agama.
Di negara barat banyak orang anti agama yang percaya bahwa agama membelenggu kebebasan. Karena agama orang tidak menjadi dirinya sendiri, orang jadi tidak mandiri dan membelenggu kebebasan manusia. Kritik-kritik tersebut banyak ditemukan pada tradisi pemikiran liberal di Barat, sehingga banyak orang yang menjadi atheist dan agnostic. Asumsi agama dan Tuhan diciptakan untuk membelenggu manusia dalam eksestensinya. Dalam Islam logika semacam itu tidak ditemukan, jadi Islam menyadari bahwa manusia itu terbatas, manusia itu lemah dan tidak mungkin menyelesaikan semua masalahnya sendiri. Dalam contoh manusia sakit tentunya akan pergi dokter untuk berobat, masalah elektronik akan berkunjung ke pusat reparasi elektronik dan banyak lagi. Semua itu karena manusia mempunyai batas, manusia hanya mempunyai spesifikasi keilmuan tertentu jadi tidak semua ilmu manusia menguasainya.
Pada kasus di atas dapat disimpulkan bahwa manusia tidak mampu berdiri sendiri (mandiri), menentukan, memutuskan sendiri, semua itu karena manusia mempunyai keterbatasan-keterbatasan dan banyak kekurangan. Dan kekurangan terbesar manusia adalah dia bukan wujud yang pasti, dia hanya sebagai ciptaan Allah semata. Maka Islam mempunyai rumus Allahu somad (Allah-lah tempat bersandar), di mana manusia patuh dan pasrah pada Allah. Dalam dunia sosiologi ada rumus bahwa manusia serba tidak mungkin, serba tidak pasti dan serba langka. Tidak mungkin berarti manusia menghadapi segala ketidakmungkinan dirinya sendiri, keputusan-keputusan, gagasan dan pikirannya. Misalnya yang dianggap manusia baik ternyata keputusan yang salah besar dan buruk, dan yang dianggap jelek menjadi hal manis dan baik bagi dirinya.
Manusia tidak mungkin dalam kondisi yang stabil, dalam hal ini manusia tidak mungkin dalam kondisi selalu bahagia, selalu sedih dan sebagainya. Semua itu karena sebuah ketidakpastian. Dalam islam sendiri tidak ada rumus ke-eksakan (kepastian) dimana manusia yang kaya tidak selalu sejalan dengan kebahagiaan, manusia yang mengalah selalu menang ataupun dan tidak ada jaminan yang rajin selalu sukses, karena penentu semuanya hanyalah Allah. Dan dalam rumus sosiologi ke-tiga: manusia mempunyai karkater serba kelangkaan atau terbatas. Manusia mempunyai keterbatasan-keterbatasan yang sangat banyak seperti: keterbatasan tenaga, keterbatasan umur, dan tidak semua keinginan selalu terwujud karena semua itu adalah karakter keterbatasan dari manusia. Oleh karena itu mereka yang bilang patuh dan pasrah kepada Allah seratus persen adalah tidak manusiawi, sebaliknya kita cermati pada pemikiran manusia mandiri seratus persen tanpa hal-hal, orang-orang di luar dirinya. Justru itulah yang tidak manusiawi, termasuk hal yang eksistensial bahwa keberadaan manusia itu tergantung dengan adanya Allah.
Maka perintah dan kewajiban puasa dari Allah adalah hal yang manusiawi. Jadi tidak perlu khawatir jika Allah mewajibkam sesuatu karena Allah selalu memberikan potensi, kekuatan untuk diri kita dalam mewujudkan kewajiban tersebut. Ke-dua Allah memberikan manfaat yang bersifat individual ataupun sosial, ke-tiga Allah memberikan balasan dalam dunia maupun akherat. Dan terakhir adalah pengecualian, dimana manusia yang sakit, dalam perjalanan ataupun yang lainnya ada sebuah keringanan dan ada jalan keluarnya. Itulah Islam dimana hukum tidak membabi buta, meskipun sifatnya wajib.
Kesimpulannya dari kata kutibba mari kita berpuasa karena puasa itu wajib dengan segala rahasia, hikmah, manfaat individual, sosial baik di kehidupan sekarang maupun di akherat nanti.
Komentar