Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Filsafat Puasa: Puasa Dan Identitias Diri

Budaya adalah suatu identitas individual Dan kelompok

Mari kita lanjutkan kembali muhasabah dan tafakkur tentang manusia. Pada hari ini kita akan membahas identitas diri, kita dalam kehidupan ini diakui atau tidak membangun diri kita dengan identitas-identitas. Kita mengenali diri kita dengan jembatan yang namanya identitas, salah satu contoh identitas paling sederhana adalah nama, alamat, tempat tanggal lahir dan data-data pada sebuah Kartu Tanda Penduduk (KTP), tapi sebenarnya di luar itu kita mempunyai identitas-identitas yang lain seperti WNI, muslim, seorang anak, seorang ayah, guru, teman, adik dan yang lainnya. Sebenarnya kondisi manusia yang mempunyai banyak identitas sifatnya niscahya (kemutlakan) yang bikin masalah identitas-identitas yang banyak ini sering kali menutupi identitas kita sebagai manusia. Sebelum kita sebagai muslim, petani, WNI, ayah dan identitas lainnya kita pertama-tama adalah seorang manusia (identitas paling dasar).

Pada bulan ramadan ini kita muhasabah untuk mengenali diri kita sendiri dan bukan berarti membuang identitas-identitas itu tapi menyadari level-levelnya identitas, porsi-porsinya identitas, jadi ada identitas personal life, identitas kultural, sosial, organisasi kemasyarakatan, kita mempunyai ciri kultural, mempunyai ciri pribadi. Manusia membangun dirinya sendiri dengan identitas-identitas dan pasti berbeda dengan yang lainnya, inilah yang membuat sumber hidup ini bermacam-macam, berbeda-beda. 

Carls Gustav Jung mempunyai teori Mandala of Identity atau Bagaimana Orang Membangun Identitasnya. Fase perkembangan manusia menurut Jung:

1. Umur 0 - 7 tahun membangun identitasnya dengan cara meniru orang lain (Heros Fase) dimana manusia meniru idolanya baik fiksi maupun tokoh nyata seperti ayah ibunya, guru, idola dan yang lainnya. Karena akalnya belum berkembang maka yang ia lakukan hanyalah meniru orang lain. Semisal ada seseorang dewasa yang meniru prilaku orang lain atau tokoh tertentu maka dia masih dalam fase anak-anak.

2. Umur 7-14 tahun, ikut meniru masyarakat apa pun yang terjadi pada masyarakat (Fase Simbol), dimana anak tersebut mudah meniru simbol-simbol yang ada di masyarakat seperti cara berpakaian, cara berbahasa dan yang lainnya. Pada umur tersebut dikenal dengan masa ABG dimana selalu mengikuti trend yang ada di masyarakat. 

3. Umur 14-21 tahun, fase di mana akal mulai berkembang (Fase Ritual), masih mirip dengan Fase Simbol hanya saja sudah mengerti apa dan mengapa. 

4. Umur 21 tahun ke atas, dimana manusia sudah mandiri (Fase Personal) dimana seseorang sudah memutuskan diri sendiri, membangun dirinya sendiri dari situ munculah identitas sosial, kultural dll. 

Mari kita muhasabah diri dengan melihat ke-empat fase tersebut, teori dari Jung mungkin saja sebatas keilmuan, namun pada kehidupan nyata kadang berbeda. Apakah umur kita sekarang masih berada di fase ritual atau hero?

Salah satu sudut identitas

Pelajaran selanjutnya dimana kita banyak menyandang identitas yang kadang-kadang salah pakai. Contoh saat ada kecelakaan di depan kita, maka yang kita kedepankan adalah identitas kita sebagai manusia dimana kita menolong atas dasar kemanusiaan bukan atas identitas lainnya, apakah orang yang ditolong muslim atau bukan, suku jawa atau bukan, kelompok tertentu atau bukan. Jadi begitulah cara menggunakan identitas, ada ruang dan waktunya tersendiri.

Mempunyai banyak identitas itu tidak masalah, hanya saja yang perlu hati-hati saat menggunakan identitas itu pas dengan ruang dan waktunya atau tidak. Tidak di seluruh waktu dan tempat menggunakan identitas yang sama, bisa jadi nanti menimbulkan konflik dengan orang lain. Kehati-hatian juga harus terwujud pada penggunaan identitas yang menghiraukan rasa tenggang rasa dimana penghormatan pada identitas lainnya ditabrak hingga menimbulkan konflik lokal, regional maupun internasional. 

Ada empat hal untuk mencegah konflik yang mucul karena identitas: Pertama, jangan prejudice dimana kita tidak adil kepada orang lain karena asosiasi kita terhadap identitasnya. Misalnya melihat orang dengan menggunakan baju tertentu menyangka sebagai terrorist, radikal dll. Ke-dua kita tidak boleh etno sentris, dimana seseorang merasa budaya sukunya paling mulia, terbaik, dan paling benar. Ke-tiga, stereotype dimana anggapan pada sebagian kecil namun dianggap mewakili kelompok besar. Contohnya: setiap orang desa itu ketinggalan zaman, setiap orang kota itu materialistik dan yang lainnya. Ke-empat, diskriminasi-diskriminasi baik sosial, agama, kultural dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.