Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Filsafat Puasa: Puasa Dan Muhasabah

Puasa memberikan banyak ruang dan waktu untuk melakukan muhasabah atau instropeksi diri. Muhasabah adalah sesuatu yang penting dimana moment-moment ini dilakukan sendiri untuk menghitung-hitung sudah benar atau belum, sudah baik atau belum semua yang kita lakukan selama ini. Para da'i juga pernah mengatakan hisablah dirimu sebelum dihisab, dalam bahasa inteleknya intropeksi diri, kalau bisa saat sahur kita hitang-hitung kesalahan yang kita perbuat selama sehari kemarin, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu atau tahun lalu. Apakah semua perbuatan itu cocok atau tidak dengan perinsip-perinsip kebenaran dan kebaikan yang diketahui, tujuan dari intropeksi ini bukan lain adalah untuk hidup kita tidak asal atau serius. Banyak yang kita lakukan begitu saja tanpa pertimbangan-pertimbangan rasional, kalkulasi detail akan kebenaran dan kebaikan, dan puasa memberikan moment atau kesempatan ini. 

Tugas intropeksi diri ini menginggatkan pada tokoh besar filsafat dari Yunani, namanya Socrates. Filsuf besar ini gemar jalan-jalan keliling Athena untuk mengajak orang lain untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Jadi dia tidak mengajarkan sesuatu melainkan melatih orang untuk berfikir kritis tentang kehidupannya. Konsep ini dekat dengan muhasabah dalam agama, mungkin Socrates membantu kita, karena kita kadang berpikir tidak runtut. Nah Socrates lah yang menginggatkan untuk berpikir secara runtut sehingga timbul-lah muhasabah. Allah berfirman dalam surat Al Hasr ayat 18 "Wahai orang-orang beriman, bertakwalah pada Allah dan lihatlah, intropeksilah dirimu apa yang sudah kau siapkan untuk hari esok..." Jadi itulah perintah alquran yang mengajarkan kita untuk selalu intropeksi diri.

Alam mampu menemani manusia untuk selalu berintropeksi diri

Ada beberapa kata mutiara dari Socrates:
"Hidup yang tidak diuji, yang tidak dipikirkan secara serius itu adalah hidup yang tidak berharga" kalimat tersebut seperti sindiran bahwa kadang hidup ini atau perbuatan ini dilakukan tanpa dipikirkan, tanpa mempertimbangakan baik buruknya sehingga hidup menjadi tidak berharga. Sebagai contoh kasus kadang kita memaki kepada seseorang tentang sesuatu, namun saat dipikirkan kita tidak paham tentang apa yang kita maki-maki. Contoh lain ada orang yang berkoar-koar aku Islam A, B, dan C, namun kita tidak pernah serius mengetahui apa itu Islam A atau B. Misalnya saya menganut fikih Syafiah, namun berapa banyak kitab Syafiah yang pernah dibaca, tokoh-tokoh Syafiah mana yang sudah kita kaji. Kadang kita lupa mengkaji apa yang kita bicarakan, layaknya kita hidup tidak pernah serius.

Puasa ramadan memberikan kita waktu untuk itikaf, lailatul qadar, dan sepuluh malam terakhir sebagai fasilitas untuk intropeksi diri yang diberikan Allah pada bulan ramadan. Socrates juga memberikan formula terbaik untuk menjadi pribadi yang selalu intropeksi diri, terlebih dengan kehidupan sekarang yang penuh hingar bingar informasi, banjir berita bohong atau kebanyakan posting media sosial yang kadang membuat gaduh masyarakat. Formula tersebut diberi nama Triple Filter (Tiga Saringan). Cerita triple filter ini di-ilhami dari cerita Socrates dengan temannya.

Triple Filter Socrates bisa digunakan setiap waktu

Suatu ketika Socrates didatangi temannya yang ingin menggosip...
Teman: "Hei Socrates banyak berita tentang murid-muridmu".
Socrates: "Sebentar, sebelum kamu cerita jawab dulu pertanyaan dariku".
Teman: "Apa yang ingin kamu tanyakan?!"
Socrates: "Yang pertama, apakah yang kamu omongkan pasti benar?"
Teman: "Kalau pasti benar, saya tidak tahu wong ini kabar dari orang banyak jadi ini desas-desus. Jadi saya tidak tahu benar atau tidak".
Socrates: "Okey, pertanyaan ke-dua apakah informasi yang kamu sampaikan hal yang baik?"
Teman: "Tidak, biasanya berita yang baik itu tidak viral, tidak tersebar kemana-mana. Sementara berita yang jelek selalu viral dan tersebar kemana-mana."
Socrates: "Okey, pertanyaan ke-tiga. Apakah informasi yang kamu berikan itu ada manfaatnya buat kehidupan dirimu?"
Teman: "Kalau dipikir-pikir sih tidak ada efek-nya apa-apa baik tahu atau tidak tahu, cuma hanya menambah informasi saja mungkin."
Socrates: "Oh jadi informasi yang kamu berikan adalah sesuatu yang belum tahu kebenaranya, sesuatu yang jelek dan tidak ada manfaatnya buat kehidupan dirimu. Sudahlah informasi yang kamu berikan tidak usah kamu sampaikan".

Demikian pelajaran dari Socrates tentang intropeksi, semoga ada manfaatnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...