Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Filsafat Puasa: Rahasia Puasa Menurut Al Ghazali

Banyak manfaat dari ritual puasa

Berbagai ilmu baru, berbagai pengalaman baru dan berbagai pengetahuan baru yang kita dapat dari kajian, pengajian di televisi, radio ataupun yang lainnya saat ramadan ini. Pada kesempatan ini kita akan membahas rahasia puasa yang dikarang oleh Al Ghazali pada kitabnya yang berjudul Asrorul Siyam atau Rahasia Puasa dalam kitab tersebut Ghazali merangkum hakekat dan hikmah puasa. Menurut Ghazali puasa itu diantara level keimanan kita adalah seperempat-nya keimanan. Logika Ghazali menyimpulkan pada dua hadist yang digabungkan yakni Assaumu nifsu sobri dan Assobru nifsu iman (puasa setengahnya sabar dan sabar setengahnya iman) jadi puasa itu sendiri seperempat-nya keimanan.

Beberapa kutipan tentang keistimewaan puasa yang dirangkum Al Ghazali pada kitab karangan-nya sebagai berikut: "Sesungguhnya setan itu berjalan masuk ke dalam jiwa manusia melalui aliran darah, maka sempitkanlah aliran darah itu dengan lapar". Hadist di atas bisa diartikan secara gambalang atau simbolis. Secara gamblang hadist di atas maksudnya setan susah masuk dikala manusia sedang lapar.  Maksud dari perkataan tersebut adalah darah yang sejatinya membawa nutrisi untuk kebutuhan sel hingga rasa kenyang muncul dan mengakibatkan nafsu atau setan muncul.

Dalam kitab assorur siam milik Al Ghazali dapat disimpulkan bahwa puasa itu mempunyai banyak dimensi dan sangat baik jika semuanya terpenuhi:

1. Dimensi kepatuhan, bahwa puasa itu menunjukkan kepatuhan kepada Allah.
2. Dimensi pelatihan (riyadhah), bahwa puasa adalah media pelatihan diri.
3. Dimensi persembahan dan pengorbanan kepada Allah, puasa mengorbankan rasa enak fisik, mengorbankan rasa nyaman rohani karena Allah, demi menjalankan perintah-Nya.
4. Dimensi penyucian jiwa, puasa sebagai penyucian jiwa, dengan puasa kita dilatih dalam membendung dari hasrat-hasrat duniawi.
5. Dimensi jihad, puasa sebagai perjuangan, jihad, muhajjadah.
6. Dimesi keikhlasan, puasa adalah keikhlasan dimana ibadah ini hanya kita yang tahu, puasa tidak bisa ditunjukkan, tidak bisa dipamerkan hanya Allah yang tahu bahwa kita benar-benar puasa atau tidak.
7. Dimensi hikmah dan iktibar, dari puasa banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil, dari puasa banyak hikmah dan iktibar yang bisa diambil, puasa mengajarkan kita mengambil banyak pelajaran jiwa.

Dari ketujuh dimensi itu jika kita realisasikan langsung akan menciptakan kualitas puasa yang setiap tahun semakin meningkat. Kita tidak mau puasa kita hanya sebatas fisik saja, namun tidak pada jiwa kita. Itulah jenis puasa yang tidak diterima Allah karena hanya sebatas fisik, sebatas lapar dan dahaga saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...