Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Filsafat Puasa: Puasa Dan Kebersihan Diri

Hidup tanpa negative thingking

Akhirnya kita pada masa akhir-akhir ramadan, di mana seharusnya kita dalam masa yang terbersihkan. Menarik jika perhatikan pada era akhir puasa ini di beberapa petunjuk mengindikasikan bahwa kita yang bersih ini untuk terjun ke dunia spesial, dunia masyarakat, dimana kita mengabdikan diri pada kehidupan nyata. Dalam islam pada akhir puasa ada zakat fitrah dan itu ada konotasi menuju ke kesolehan sosial. Kita masih ingat bahwa pada awal-awal puasa banyak fenomena yang mengindikasikan hati kita masih yang belum bersih, kita tahu banyak fenomena yang membawa nafsu seperti pergaduhan politik, pergaduhan agama, caci maki di media sosial pada akhir periode puasa ini kita diharapkan untuk bersih dari hal-hal demikian. 

Kita tidak boleh hasud, jangan sengaja mencari-cari kesalahan, dan jangan saling membelakangi. Maka pada akhir puasa ini kita bersihkan dari sikap kebencian dan kebencian, namun kita peterat lagi persatuan, paling tidak kita paham bahwa kita sesama muslim dan sesama manusia. 

Kita cermati bahwa hal-hal yang memicu kebencian setidaknya ada beberapa hal, mari kita cermati bersama: 

1. Over generalisasi, hal-hal kecil yang dibesarkan dengan tujuan yang kurang baik. Misalnya orang barat menganggap semua orang Islam itu terrorist karena satu dua orang yang melakukan teror. Logika over generalisasi inilah yang digunakan untuk menghakimi orang yang berbeda dengan kita. Biasanya dimuali dari hasud, saling memata-matai dan mencurigai.

2. Read the thought, kita menyangka atau bisa membaca pikiran orang lain. Kita menyangka orang lain telah merencanakan hal-hal jahat yang akan dilakukan kepada kita. Dan kita berperasangka buruk selalu kepada orang lain. Oleh karena kita baiknya selalu berpositif thingking

3. Mengedepankan emosi saat menghadapi sesuatu. Manusia ini wajar mengedepankan emosi, tapi jangan melupakan akal sehat. Kita bisa tidak suka terhadap sesuatu namun ketidaksukaan itu harus pada batasan yang wajar.

4. Costumisation, kita sering salah berpikir terhadap satu variable menjadi sebab dari segala peristiwa. Padahal variabelnya banyak. Misalnya penyebab kemunduran umat islam karena sebab A, karena sebab B atau dari kelompok Xr atau dari mazhab Xy. Padahal kalau kita lebih jeli penyebabnya itu sangat banyak.

Tidak ada bias dalam setiap langkah 

5. Ada juga penyebab kebencian yakni suka melebih-lebihkan dan suka mengurangi (tidak objective) kalau ada kebaikan dari orang yang tidak kita suka maka dikecil-kecilkan dan jika ada kesalahan maka akan dibesar-besarkan, dan sebaliknya jika suka pada orang atau kelompok tertentu.

6. Ada juga orang yang berfikirnya kacau, itu orang yang sangat panik, orang yang sangat marah, sangat lapar, sangat tersingung, atau jangan-jangan orang yang sedang sangat kenyang. Ini menunjukan berpikirnya tidak jernih. 

7. Berpikir bias atau milih-milih, misalnya orang yakin bila angka 13 itu angka sial, sehingga dia mengindari angka 13, bila ditanya dia akan menjawab dengan mencari data kesialan, bencana yang terjadi pada angka 13. Tapi bencana itu bisa terjadi pada tanggal berapa pun, tapi dia hanya memilih pada tanggal 13 sebagai bukti jawaban (Confirmation Bias). Kalau tidak suka pada kelompok A maka dia akan selalu membesarkan atau mencari hal-hal yang tidak disukai dari kelompok A. 

Pada akhir puasa ini diharapkan semua melenyapkan kebencian-kebencian sehingga pada akhirnya kita menemukan Idul Fitri (kesucian/bersihan jiwa), menemukan kembali kesucian, kembali kepada fitrah.

Bila kita susah menaklukan kebencian maka sisihkanlah ke tempat lain dan ganti lah dengan rasa kasih dan cinta ~ Mahatma Gandhi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.