Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Filsafat Puasa: Puasa Dan Adab Berilmu

Pendidikan adalah harapan bangsa

Salah satu kenikmatan yang didapatkan dari bulan ramadan adalah banyaknya majelis ilmu, baik di media maupun kehidupan nyata yang diadakan khusus pada bulan ramadan ini. Kita seharusnya memanfaatkan majelis-majelis ilmu yang diadakan tersebut, karena Allah menyukai majelis ilmu dan majelis dzikir. Ada baiknya kita mengikuti majels ilmu tersebut dengan menata mental kita, menata ahlak kita sebagai seorang pencari ilmu. Karena jika salah mental dan salah ahlak maka ilmu tidak akan memberikan manfaat bagi kita. 

Ada hadist yang mengindikasikan adanya kesalahan dalam niat menuntut ilmu, berikut terjemahan hadist yang diriwayatkan oleh Trimidzi dan Ibn Majah: "Barang siapa yang mencari ilmu hanya untuk berdebat dengan orang pintar/ulama atau untuk digunakan sewenang-wenang untuk menaklukan orang bodoh, atau untuk popularitas, justru Allah akan memasukan-nya ke neraka". Ternyata ada orang mencari ilmu ternyata membuatnya masuk ke dalam neraka karena tujuannya untuk menang-menangan atau menaklukan orang bodoh, untuk berdebat sehingga dia memamerkan ilmunya. 

Mbah Kyai Hasyim Azhari pernah membuat buku yang berisikan tutunan ahlak untuk para pencari ilmu. Menurutnya seorang pencari ilmu harus memperhatikan ahlak, siapa pun dia, ahlak guru terhadap murid, ahlak pada rasul dan ahlak pada Allah. Ada beberapa yang harus digaris bawahi untuk pencari ilmu yakni:

1. Atur kembali niat mencari ilmu, jangan sampai niat mencari ilmu untuk yang jelek-jelek, balas dendam, menipu, demi rasa untuk memenuhi rasa iri, rasa hasud, untuk mengalahkan kita yang pinter dan sebagainya. Niatnya mencari ilmu seharusnya hanya mencari ridho Allah dan memanfaatkan-nya demi kemanfaatan dan kemaslahatan manusia . Jadi setiap ke majelis ilmu niatnya harus mencari ridho Allah. Mencari itu wajib bagi setiap muslim, tapi dapat atau tidaknya ilmu itu tergantung Allah. Belajar juga wajib bagi setiap muslim, tapi dapat apa dari belajar itu hak preogratif dari Allah. Ada yang belajar sudah lama belum paham-paham, ada yang belajar sebentar langsung paham. Biasanya orang yang mencari ridho Allah selalu mencintai syariat dan bukan membenci syariat, atau menjauh dari syariat. 

2. Berusaha untuk menerangi batin-nya, bukan hanya solat, puasa tapi tanha anil fahsa wa munkar, mengendalikan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan tidak terikat oleh harta. 

3. Tidak bertujuan dengan hal-hal yang berhubungan dengan duniawi, niatnya bukan untuk gelar, bukan untuk dipuji orang, atau mengalahkan saingan. Maka jika ada niat sedikit tentang hal tersebut akan menjauhkan ridhonya Allah.

Di kitab karangan mbah Kyai Hasyim juga menjelaskan dimensi adabnya seseorang saat mencari ilmu. Diantaranya:
1. Bersegera, tidak menunda-nunda, begitu ada kesempatan kita langsung hadir tanpa pertimbangan-pertimbangan lainnya karena majelis ilmu itu dicintai Allah, dan setiap ilmu itu bermanfaat.
2. Konaah, tidak banyak tuntutan, tidak banyak keinginan dan angan-angan. Saat kita hendak menghadiri majelis ilmu biasanya kita dihantui oleh banyak angan-angan dan keinginan, sehingga saat majelis ilmu berlangsung kadang kita tidak cocok dengan topik pembicaraan atau ustadz/pembicaranya tidak cocok. Orang yang terlalu banyak menuntut dan berangan-angan akan tidak mendapatkan ilmu yang sempurna.
3. Membagi waktu dan memanfaatkan waktu, karena kuncinya mendapatkan ilmu adalah memanfaatkan dan mengolah waktu.
4. Jangan terlalu banyak makan dan minum.
5. Wira'i, tidak sembrono, tidak sembarangan dalam bertutur dan tidakan agar tidak merusak harga diri.
6. Mengurangi tidur, bukan berarti tidak tidur. Mengurangi tidur (tidur secukupnya) ini dalam rangka menambah wawasan keilmuan.
7. Menjaga pergaulan dari hal-hal yang menurunkan semangat keilmuan.

Siksaan ilmu pengetahuan adalah hati yang mati, hati yang mati adalah mencari cintanya harta dunia dengan perbuatan-perbuatan akherat ~ Hassan Al Basri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...