Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Filsafat Puasa: Puasa Dan Kebahagiaan

Kebahagiaan saat mencapai sesuatu yang di-inginkan

Puasa mengimplikasikan kemampuan kita untuk menahan diri, berarti puasa ada unsur jasmani dan rohani. Sebagai mana jasmani yang butuh makan dan butuh puasa begitu pula dengan rohani; jasmani butuh pendidikan dan kekuatan begitu juga dengan rohani. Jadi dalam kehidupan ini semua harus kita garap mulai dunia, akherat, jasmani, dan rohani. Seperti pada firman Allah yang berbunyi "Dan carilah dengan bekal apa yang diberikan Allah padamu rumah akherat/kebahagiaan akherat, tapi jangan lupakan nasibmu di dunia/kebahagiaan dunia"  dari petikan ayat ini menyimpulkan bahwa kita berpuasa dalam rangka mempuasai jasmani dan rohani untuk kebahagiaan dunia akherat.

Sebelum lebih lanjut mari kita berkenalan dengan apa itu kebahagiaan, menurut Al Ghazali kebahagiaan setiap mahluk berbeda-beda:

1. Level binatang ternak (baha'im), kebahagiaan menurut orang pada level ini yakni terpenuhinya kebutuhan sandang pangan, papan, bilogis (kebutuhan fisik). Orang pada level ini akan merasa bahagia jika kebutuhan fisik dan bilogisnya terpenuhi.

2. Level binatang liar (Siba'i), orang pada level ini akan merasa bahagia saat dirinya menang dalam menaklukan lawan, sukses mencapai sesuatu yang di-inginkan.

3. Level setan (Syaitan), orang yang pada level ini akan merasa senang jika melakukan tipu daya, kejelekan, keangkuhan, kebejatan, durjana, dan lain sebagainya. Saat dia melakukan tipu daya kepada orang lain dengan sukses maka dia merasa sangat bahagia.

4. Level malaikat, orang pada level ini adalah orang yang merasa bahagia saat melakukan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-nya, mampu menaklukan hasrat fisik dan jiwanya. Orang yang berada  pada level malaikat ini lebih tinggi kedudukannya dari malaikat itu sendiri, karena manusia mempunyai daya untuk memilih. Dia bisa baik dan bisa juga memilih yang buruk, berbeda dengan malaikat yang selalu (patuh) dalam berbuat baik. Dan manusia juga bisa jatuh ke level paling rendah melebihi level setan, dimana manusia memutuskan memilih keburukan.

Dari kitab Al Ghazali ada ilmu menarik jika kita amati dan sadar, dimana kebahagiaan tertinggi yakni saat mencintai Allah. Dalam percintaan antara manusia dan Tuhan-nya bukan seperti hubungan majikan dan bawahan-nya bukan seperti orang tua dan anak, president dan rakyat, tapi hubungan yang mencintai dan dicintai. Orang yang sudah mencapai level ini bisa disebut orang yang sudah mencicipi manisnya iman. 

Manusia pada umumnya susah untuk mencintai Allah, karena pada umumnya manusia terjebak pada materi, mencintai yang ada wujudnya. Sehingga mencintai pada sesuatu yang tidak berwujud (Allah) terasa akan sangat berat. Padahal kalau kita berpikir agak dalam, yang patut di cintai di dunia ini adalah Allah. Kalau kita cinta pada hal yang cantik-cantik, indah dan ganteng, namun bukannya yang Maha Indah itu Allah. Al Ghazali menganjurkan kita untuk mencari kebahagiaan hakiki yakni kebahagiaan dimana seorang hamba yang selalu mencintai Allah. 

Mencintai Allah berarti menemukan kebahagiaan. Berarti level kita dalam berhubungan dengan Allah harus dinaikan, cuma banyak orang yang mati-matian gagal untuk masuk ke level cinta. Ada beberapa sebab gagalnya manusia masuk ke level cinta pada Allah diantaranya:

1. Tidak benar-benar beriman kepada Allah, biasa hanya dalam bicara saja kita percaya pada Allah, namun dalam hati tidak sepenuhnya percaya keberadaan Allah. Sehingga kita tidak yakin pada sesuatu yang kita tidak yakin 100% kepada keberadaan-Nya. 

2. Mental yang mengatakan bahwa Allah itu tidak butuh hambanya, kalau kita beribadah puasa, haji, zakat itu semua tidak penting bagi Allah. Pada pernyataan tersebut jika tidak hati-hati maka akhirnya kita menyepelekan Allah. Seperti orang datang ke dokter dan dikasih resep, dan dia bilang "apakah resepnya harus dibeli?". 

3. Orang yang meremehkan dosa, sebagai contoh ada orang berkata "Agama mengajarkan kita untuk menjaga syahwat, padahal kita manusia yang mempunyai syahwat, bisa nafsu, bisa minafik dan yang lainnya. Itu kan manusiawi, fitrahnya manusia!" Dari perkataan tersebut terindikasi seseorang menyepelekan dosa, sehingga susah untuk mencintai Allah. 

4. Orang yang mengabaikan keadilan atau menonjolkan kemurahan Allah. Contoh: "Tenang saja kita kan dosa sedikit-sedikit pasti Allah mengampuni dosa kecil itu, lagi pula Allah kan Maha Pemurah dan Pemaaf".

5. Elit agama tapi pikirannya masih sibuk dengan dunia. Setinggi apapun wawasan, ilmu agamnya dia akan susah mencintai Allah jika masih sibuk dengan dunia. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.